Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Apa Penyebab Tensi Tinggi? Praktisi Ini Mengajak Mengenalinya

Dwi Setiyawan • Senin, 20 November 2023 | 17:24 WIB
Ilustrasi. Cek tekanan darah
Ilustrasi. Cek tekanan darah

RADARTUBAN - Jangan sepelekan tensi tinggi! Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi, seperti penyakit ginjal, jantung, dan stroke. Karena itu, penyebab dan cara mencegah terjadinya tensi tinggi perlu diketahui dengan baik.


Dikutip dari alodokter.com, tensi tinggi adalah kondisi ketika tekanan dalam pembuluh darah terlalu tinggi. Kondisi ini bisa disebabkan banyak faktor, mulai dari gaya hidup, bertambahnya usia, hingga komplikasi kondisi medis yang dialami seseorang.


Seseorang dikatakan mengalami tensi tinggi (hipertensi) jika tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Tensi tinggi biasanya tidak menunjukkan gejala, sehingga cara untuk mengetahui kondisi ini adalah dengan memeriksa tekanan darah secara rutin dengan menggunakan tensimeter.


Berdasarkan penyebabnya, tensi tinggi dibedakan menjadi dua, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer merupakan jenis hipertensi yang terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun. Sedangkan hipertensi sekunder disebabkan penyakit tertentu. Berikut beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan terjadinya tensi tinggi:


1. Keturunan
Memiliki keluarga dengan riwayat tensi tinggi merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit ini. Mutasi gen atau kelainan genetik yang diwariskan dari orang tua yang menderita hipertensi akan meningkatkan risiko terjadinya tensi tinggi.

2. Usia
Faktor yang berpengaruh terhadap tingginya tensi adalah usia. Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah akan cenderung kehilangan keelastisannya dan menjadi lebih kaku. Kondisi ini dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan menyebabkan terjadinya tensi tinggi.


3. Gaya hidup tidak sehat
Pilihan gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, kurang melakukan olahraga, dan pola makan yang kurang sehat berdampak buruk pada kesehatan.


Kandungan nitokotin dalam rokok dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan peningkatan detak jantung. Akibatnya, tekanan darah meningkat karena jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh darah yang menyempit.


Sementara itu, konsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan kadar hormon kortisol. Tingginya kadar hormon kortisol atau hormon stres ini akan menyebabkan tensi tingggi serta jantung berdebar-debar.


4. Obesitas
Kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi primer. Ketika seseorang memiliki berat badan yang berlebih, kadar lemak dalam tubuhnya juga kemungkinan lebih tinggi. Kelebihan kadar lemak dalam tubuh ini akhirnya akan membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.


Peningkatan kerja jantung yang terjadi secara terus-menerus akan membuat jantung dan pembuluh darah menjadi kelelahan. Pada akhirnya, kondisi ini akan menyebabkan terjadinya tensi tinggi.

5. Kondisi medis
Berbeda dengan hipertensi primer, hipertensi sekunder atau tensi tinggi sekunder adalah terjadinya peningkatan tekanan darah melebihi batas normal karena suatu penyakit, seperti penyakit ginjal, gangguan kelenjar adrenal, sleep apnea, dan koarktasio aorta. Kondisi ini juga bisa dialami oleh ibu hamil dengan komplikasi kehamilan, yakni preeklamsia.


6. Obat-obatan
Konsumsi beberapa jenis obat, seperti pil KB, antidepresan, dan obat antiinflamasi nonsteroid, juga dapat menyebabkan terjadinya tensi tinggi. Namun, respons tubuh terhadap konsumsi obat bisa berbeda-beda pada setiap orang. Jadi, bisa saja Anda tidak mengalami peningkatan tekanan darah setelah mengonsumsi obat tersebut.


Jika Anda mengalami tensi tinggi setelah mengonsumsi suatu jenis obat, jangan menghentikan pengobatan sebelum berkonsultasi dengan dokter. Hal ini penting dilakukan agar pengobatan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan dokter bisa meresepkan obat pengganti yang sesuai.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#jantung #tekanan darah #ginjal #tensi tinggi #komplikasi #hipertensi #stroke