RADARTUBAN – Selain disleksia, ada gangguan mental lain yang juga rawan dialami anak–anak. Gangguan tersebut biasa disebut ADHD atau attention deficit hyper activity disorder.
Gangguan mental yang membuat seseorang sulit memfokuskan dirinya pada suatu hal tersebut jumlah kasusnya juga patut diperhitungkan.
Titien Prasetyaningtyas, pemilik salah satu klinik tumbuh kembang anak mengatakan, saat ini ada sekitar 20 anak dengan gangguan ADHD yang mendapat penanganan intensif di kliniknya.
Mereka sedang dipantau untuk diketahui apakah merupakan anak dengan ADHD murni atau ADHD dengan disleksia.
‘’Gejala ADHD ini sangat susah dibedakan dengan disleksia,’’ kata dia.
Dokter spesialis anak itu mengatakan, cukup sulit membedakan ADHD dengan disleksia.
Dipicu banyaknya kasus ADHD yang menjadi gangguan penyerta dari disleksia karena posisi gen yang terkena hampir sama.
Bisa disimpulkan, ADHD jarang berdiri sendiri sebagai gangguan mental.
Titien—sapaan akrabnya menjelaskan, ADHD adalah gangguan yang terdiri dari dua komponen. Meliputi gangguan pemusatan perha tian atau gangguan untuk sulit fokus.
Dokter Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban itu menyampaikan, gejala dari ADHD dan disleksia pun terlihat mirip. Yaitu kesulitan dalam memperhatikan sesuatu, kesulitan fokus, sulit mengingat sesuatu, dan sebagainya.
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya itu mengatakan, anak dengan ADHD murni biasanya akan diberikan terapi perilaku dan medika mentosa atau pemberian obat.
‘’Kondisi tersebut memang tidak dapat disembuhkan secara total, namun dapat dikelola melalui terapi dan pengobatan,” tutur dia. (sel/yud)
Editor : Amin Fauzie