RADARTUBAN - Brasil melaporkan kasus kematian pertama di dunia yang disebabkan oleh virus oropouche. Kasus ini menarik perhatian global terhadap virus yang relatif belum banyak dikenal namun berpotensi berbahaya.
WHO (World Health Organisasion), Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan kewaspadaan epidemiologic akibar virus oropouche (OROV).
Dilansir dari cdc.gov, demam oropouche adalah penyakit yang disebabkan oleh virus oropouche. Virus yang dtularkan melalui gigitan nyamuk (Culex quinquefasciatus), mirip dengan demam berdarah dengue (DBD).
Wabah demam oropouche ini terjadi dibeberapa bagian Brazil, yaitu Bolivia, Kolombia, Peru, dan Kuba.
Sejak awal tahun ini, lebih dari 7 ribu kasus infeksi telah dilaporkan di Brasil. Infeksi virus tersebut mayoritas terjadi di negara bagian Amazonas dan Rondonia.
Gejala infeksi virus oropouche serupa dengan DBD, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, muntah, serta mengigil. Gejala tersebut dimulai 4-8 hari setelah gigitan dan akan berlansung selama 3-6 hari.
Hingga saat ini masih belum ada pengobatan khusus untuk menangani penyakit ini.
Dikutip dari mediaindonesia.com, Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, mengatakan dalam kasus yang parah, virus ini dapat menyebabkan meningitis atau radang selaput otak.
Pakar epidemiologi, Dicky Budiman memperingatkan adanya potensi penyebaran virus ini ke negara-negara lain terutama negara dengan iklim tropis seperti ASEAN.
Masyarakat yang tinggal di daerah yang dekat dengan habitat liar seperti hutan dan perkampungan harus lebih waspada.
Untuk mencegah infeksi virus oropouche, langkah-langkah yang direkomendasikan mirip dengan pencegahan DBD:
1. Gunakan lotion anti nyamuk
2. Pasang kelambu saat tidur
3. Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang
4. Bersihkan genangan air di sekitar rumah
5. Lakukan fogging secara berkala di daerah endemis
WHO mengatakan kasus ini sedang dalam penelitian untuk memahami virus ini lebih baik dan mengembangkan treatment yang lebih efektif.
WHO menganjurkan negara-negara lain untuk melakukan peningkatan surveilans entomologi dan menjalankan upaya pengendalian vektor dengan baik. Masyarakat diharap tetap waspada, namun tidak perlu panik, dan mengikuti rekomendasi kesehatan setempat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama