RADARTUBAN - Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember menjadi pengingat pentingnya kesadaran akan risiko HIV.
Salah satu bahaya yang perlu diwaspadai adalah HIV bawaan, yaitu penularan virus dari ibu ke bayi yang baru lahir.
Gejala HIV pada anak atau bayi yang baru lahir seringkali tidak terlihat selama 2 hingga 3 bulan pertama, meskipun sang buah hati sudah menunjukkan tanda ketidaknyamanan.
Sejumlah indikasi seperti infeksi jamur di mulut, berat badan stagnan, dan pembengkakan kelenjar getah bening bisa mulai muncul setelah beberapa bulan.
Selain itu, bayi juga berisiko mengalami infeksi telinga, gangguan pernapasan, serta keterlambatan dalam perkembangan motorik seperti berjalan atau merangkak. Diare yang berkelanjutan juga menjadi indikasi lain yang patut diwaspadai oleh orang tua.
Untuk mencegah penularan HIV pada bayi, ibu yang terinfeksi dianjurkan untuk menjalani terapi antiretroviral (HAART) selama kehamilan.
Terapi ini efektif menurunkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi, baik saat persalinan maupun menyusui.
Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV juga harus segera diperiksa dan mendapatkan pengobatan antiretroviral setelah persalinan.
Pemeriksaan dilakukan dalam 48 jam pertama dan dilanjutkan dengan tes ulang pada 6-12 minggu kemudian, memastikan tidak ada infeksi HIV dalam diri bayi.
Meskipun penularan HIV dapat terjadi selama kehamilan atau menyusui, risiko tersebut dapat diminimalkan dengan pengobatan yang tepat.
Bahkan, ibu dengan HIV yang menjalani pengobatan secara rutin bisa melahirkan secara normal tanpa meningkatkan risiko penularan kepada bayi.
Penting bagi ibu hamil dengan HIV untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai pengobatan yang aman dan langkah pencegahan yang harus diambil.
Tes dan pengobatan yang tepat akan membantu memastikan kesehatan ibu dan bayi sepanjang kehamilan dan setelah kelahiran. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama