Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Paling Banyak Digunakan oleh Gen Z, Inilah Manfaat dan Efek Samping Penyalahgunaan Ketamin

Nadia Nafifin • Sabtu, 7 Desember 2024 | 14:35 WIB

 

Ketamin paling banyak digunakan Gen Z
Ketamin paling banyak digunakan Gen Z

RADARTUBAN - Penyalahgunaan ketamin di Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan signifikan, bahkan melampaui 100 persen.

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) mencatat, distribusi ketamin injeksi ke fasilitas kesehatan dan kefarmasian meningkat sebesar 87 persen dalam satu tahun ini.

Ketamine adalah obat untuk membius pasien yang hendak menjalani prosedur medis, seperti bedah. Ketamine termasuk dalam obat bius total atau anestesi umum.

Ketamine bekerja dengan cara mengganggu sinyal di otak yang berperan mengatur kesadaran dan rasa sakit. Obat ini hanya boleh digunakan di rumah sakit dalam pengawasan dokter.

Namun peningkatan distribusi ketamin injeksi ke apotek tercatat lebih tinggi, mencapai lebih dari 200 persen dalam periode yang sama.

Sebanyak 65 apotek terindikasi memberikan suntikan ketamin tanpa resep dokter, meskipun obat ini tergolong obat keras.

Tren ini menunjukkan lonjakan lebih dari 1.000 persen, jika dibandingkan dengan temuan tahun 2022.

Di mana distribusi yang awalnya hanya berkisaran sekitar 3.000 vial meningkat menjadi sekitar 149.000 botol pada di tahun ini.

Terbukti terdapat 17 yang melakukan pelanggaran berat dan diberikan sanksi berupa izin operasi sementara. Hal ini diduga karena peningkatan tren baru yang mencangkup jenis obat.

"Biasanya kan orang-orang yang melakukan kriminal, ilegal, ini mencari jalan, kalau di sini sudah dilarang, dengan demikian mencari obat baru, yang sama-sama memberi efek seperti halusinasi, euforia, 'high'," Ungkap Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam konferensi pers Jumat (6/12).

"Jadi ini kan tren baru, sebelum ini boleh jadi, belum menjadi tren, ini semacam pengalihan dari obat-obat yang sudah diatur, dibatasi, tetapi belum diatur, supaya dia tidak ditangkap jadi dicari-cari model baru," lanjut dia.

Efek samping ketamin dapat menyebabkan masalah serius pada sistem saraf, termasuk disfungsi kognitif, gangguan mental, halusinasi, kecemasan, hingga depresi.

Dalam kasus yang lebih parah, penyalahgunaan ketamin dapat berujung pada keputusan fatal seperti bunuh diri.

Taruna menyatakan generasi muda, termasuk kelompok gen Z pada rentang usia 20-an tahun, penggunaan ketamin terbanyak.

“Sebagian besar penggunanya ini anak-anak muda, generasi z, mulai dari pakai ketamin saat tato, supaya tidak sakit, kemudian supaya energinya bertambah, relaksasinya dipakai di tempat-tempat diskotik, euforia,” sorotnya.

BPOM RI kemudian menekan revisi atau perbaikan baru regulasi ketamin dari semula obat keras menjadi Obat-Obat Tertentu (OOT).

Obat-obat Tertentu (OOT) adalah jenis obat yang memengaruhi sistem saraf pusat dan, jika digunakan di atas dosis terapi, dapat menyebabkan ketergantungan serta perubahan signifikan pada aktivitas mental dan perilaku. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Gen Z #BPOM #ketamin #penyalahgunaan ketamin