RADARTUBAN -Mengganti sikat gigi secara rutin perlu dilakukan. Lantaran, sikat tersebut digunakan untuk menyikat gigi dua kali sehari harus terjaga kebersihannya.
Mengetahui seberapa sering mengganti sikat gigi juga penting untuk kesehatan mulut jangka panjang.
Dikutip laman Well and Good, Senin (17/3), sikat gigi dapat menjadi tempat menumpuknya bakteri yang bisa membuat peradangan awal dari penyakit gusi.
"Disarankan untuk mengganti sikat gigi setiap tiga hingga empat bulan, bulu sikat gigi berfungsi seperti spons, menyerap bakteri dan mikroorganisme dari mulut Anda setiap kali Anda menyikat gigi," kata Naomi Goldman, DDS , dokter gigi kosmetik dan restoratif di Levy Goldman Dentistry.
Dijelaskan dia, bahwa menggunakan sikat gigi yang sama dalam waktu lama, maka akan semakin banyak kuman yang terkumpul. Dengan demikian, sikat gigi harus diganti secara berkala.
"Jika tidak menggantinya setiap tiga hingga empat bulan, risiko penyebaran infeksi di mulut Anda akan meningkat," imbuhnya.
Sedangkan Thomas Dobie, DDS, MDS, MS, dokter gigi ortodontis di Dobie Revolution Orthodontics, menyarakan, jika menggunakan kawat gigi harus mengganti sikat gigi lebih sering.
Mengganti sikat gigi pada kawar gigi, setidaknya setiap dua hingga tiga bulan. Hal ini perlu dilakukan karena braket akan lebih cepat aus.
Bulu sikat gigi dapat mengalami kerusakan seiring waktu, sehingga kemampuannya untuk membersihkan gigi menjadi kurang efektif.
Dokter gigi di King Village Dental, Royce Lai, DDS, menjelaskan bahwa bulu sikat yang aus tidak lagi mampu menghilangkan plak, sisa makanan, dan bakteri sebaik saat masih baru.
Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan plak atau bakteri di gigi, yang berpotensi meningkatkan risiko gigi berlubang serta penyakit gusi.
Risiko kesehatan akibat penyakit gusi tidak hanya sebatas gigi berlubang. Dalam kasus yang lebih parah, penyakit gusi dapat menyebabkan gigi tanggal karena gusi mengalami resesi dan kehilangan dukungan yang menjaga gigi tetap di tempatnya.
Dokter gigi sekaligus pemilik Deering Dental, Yenile Pinto, DDS, menjelaskan bahwa penyakit gusi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan bahkan beberapa jenis kanker.
Oleh karena itu, mengganti sikat gigi secara rutin menjadi langkah kecil namun efektif untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Selain itu, dokter gigi sekaligus pendiri Riven Oral Care, Fatima Khan, DMD, menekankan pentingnya mengganti sikat gigi jika bulunya mulai rusak sebelum tiga bulan.
Dia juga merekomendasikan penggantian sikat gigi setelah mengalami flu, pilek, atau infeksi jamur mulut guna mencegah bakteri kembali masuk ke dalam tubuh.
Meskipun penggantian sikat gigi secara teratur penting, membersihkan sikat gigi di sela-sela penggunaan juga merupakan ide yang baik.
Dr. Lai menyarankan untuk membilas sikat gigi secara menyeluruh dengan air panas setelah setiap penggunaan untuk membuang sisa pasta gigi dan partikel makanan, sehingga mengurangi pertumbuhan bakteri.
Dr. Yenile Pinto juga merekomendasikan rutinitas pembersihan mingguan untuk mendisinfeksi sikat gigi guna menjaga kebersihannya.
Dia menyarankan agar sikat gigi direndam dalam campuran air dan hidrogen peroksida dengan perbandingan 50:50 selama 15 menit untuk membunuh bakteri.
Menurutnya, tidak diperlukan pembersih khusus, karena metode sederhana ini sudah cukup efektif untuk menjaga sikat gigi tetap segar dan aman digunakan.
Penyimpanan yang tepat juga berperan dalam menjaga kebersihan sikat gigi.
"Sikat gigi Anda harus disimpan dalam posisi berdiri tegak sehingga dapat benar-benar kering setiap kali digunakan, yang membantu mencegah pertumbuhan bakteri," kata Dr. Dobie.
Dr. Khan menyarankan untuk menyimpan sikat gigi sejauh mungkin dari toilet dan menutup tutup toilet saat menyiramnya, untuk mengurangi risiko penyebaran partikel bakteri ke udara atau ke permukaan kamar mandi lainnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni