RADARTUBAN- Bagi penderita asam lambung, nama-nama obat obatan seperti omeprazole dan lansoprazole tentu sudah tidak asing lagi.
Keduanya termasuk dalam golongan obat proton pump inhibitor (PPI) yang dikenal efektif dalam mengatasi masalah pencernaan, khususnya dalam menekan produksi asam lambung.
Obat-obatan jenis ini biasanya menjadi andalan bagi mereka yang sering mengalami keluhan naiknya asam lambung.
Bahkan, tidak sedikit orang yang selalu membawa obat ini dimanapun tempatnya.
Namun, seperti halnya obat lain, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait efek samping dari PPI.
Asam lambung sejatinya memiliki peran penting untuk tubuh. Mengutip dari Cleveland Clinic, asam ini membantu memecah makanan agar lebih mudah dicerna. Selain itu, juga berfungsi untuk membasmi kuman berbahaya yang masuk ke saluran cerna.
Meski demikian, produksi asam lambung yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan seperti refluks asam, yang menjadi salah satu keluhan utama pada penderita GERD.
Dalam kondisi seperti itu, obat jenis PPI sering dijadikan solusi yang instan.
Beberapa gangguan pencernaan yang umumnya ditangani dengan PPI antara lain GERD, tukak lambung, serta berbagai infeksi saluran pencernaan.
Cara kerja obat ini adalah dengan menghambat enzim yang dikenal sebagai proton pump, yang bertugas memproduksi asam lambung.
Meskipun begitu, obat ini tidak benar-benar menghentikan produksi asam lambung secara total.
Masih ada sebagian kecil asam yang tetap diproduksi untuk membantu proses pencernaan.
Jika obat tersebut dikonsumsi secara rutin setiap hari selama sekitar lima hari, PPI dapat menekan produksi asam lambung hingga 65 persen, menyisakan 35 persen asam untuk mendukung fungsi pencernaan.
Dalam sebagian besar kasus, konsumsi obat ini tergolong aman dan tidak menimbulkan masalah serius.
Namun, ada beberapa efek samping yang dapat muncul, seperti nyeri perut, sembelit, diare, pusing, mulut kering, sakit kepala, demam, perut kembung, gatal-gatal, ruam, dan muntah.
Meski secara umum dianggap aman, terdapat juga sejumlah penelitian mengindikasikan adanya potensi risiko jika PPI digunakan dalam jangka panjang.
Salah satu risikonya adalah meningkatnya kemungkinan infeksi Clostridioides difficile, karena PPI dapat mengganggu keseimbangan bakteri alami dalam saluran cerna.
Selain itu, ada kemungkinan risiko patah tulang akibat penyerapan kalsium yang terganggu, terutama di area pinggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang.
Risiko lain termasuk peningkatan kemungkinan terkena penyakit ginjal kronis, serta kekurangan nutrisi seperti magnesium dan vitamin B12.
Magnesium berperan dalam fungsi otot dan saraf, sementara vitamin B12 penting untuk kesehatan sistem saraf dan produksi sel darah merah.
Selain itu, para ahli juga menekankan bahwa hubungan antara penggunaan jangka panjang PPI dan risiko-risiko tersebut masih perlu dikaji lebih dalam.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mengonsumsi obat ini dalam durasi yang wajar dan sesuai anjuran medis. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni