Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Diet Tanpa Nasi Kian Populer, tapi Bisa Bahaya Jika Asal Pilih Karbohidrat Sebagai Pengganti

Muhammad Rizqi Mustofa Kamal • Rabu, 11 Juni 2025 | 20:04 WIB
Ilustrasi diet tanpa nasi
Ilustrasi diet tanpa nasi

RADARTUBAN - Belakangan ini, diet tanpa nasi semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan mereka yang ingin menurunkan berat badan.

Banyak yang meyakini bahwa menghilangkan nasi dari menu harian bisa membantu lebih cepat mencapai berat badan ideal. Namun, apakah metode ini benar-benar efektif dan aman?

Menurut dr. Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK, penting untuk menyadari bahwa tubuh tetap memerlukan asupan karbohidrat sebagai sumber energi utama.

Idealnya, karbohidrat menyumbang 45–60% dari total kebutuhan energi harian, atau sekitar 130 gram per hari.

“Menghapus nasi dari menu tanpa menggantinya dengan sumber karbohidrat sehat bisa menyebabkan kekurangan energi, menurunnya fokus, dan rasa lelah berlebihan,” jelas dr. Mulianah.

Walau nasi putih memiliki indeks glikemik tinggi, masih banyak pilihan karbohidrat yang lebih sehat untuk dijadikan pengganti, seperti:

- Ubi jalar, tinggi serat dan memiliki indeks glikemik rendah

- Jagung, kaya vitamin dan mineral sebagai karbohidrat kompleks

- Quinoa, mengandung serat dan protein tinggi

- Kentang, mengandung pati resisten yang baik untuk sistem pencernaan

- Nasi merah dan nasi hitam, lebih kaya serat dibanding nasi putih

“Semakin gelap warna beras, biasanya kadar seratnya semakin tinggi dan indeks glikemiknya lebih rendah,” tambahnya.

Banyak orang melakukan kesalahan dengan mengganti nasi menggunakan makanan yang tidak sehat, seperti kue manis, roti putih, atau makanan olahan tinggi gula.

Padahal, tiga potong kue basah saja bisa memiliki kalori yang setara dengan satu centong nasi.

“Sering kali orang tidak menyadari bahwa pengganti nasi yang mereka pilih justru lebih tinggi kalori dan gula. Akibatnya, bukan menurunkan berat badan, malah menaikkan,” tegas dr. Mulianah.

Menghilangkan seluruh jenis karbohidrat, seperti nasi, tepung, dan gula dari pola makan juga tidak dianjurkan, terlebih untuk penderita diabetes.

Pengurangan karbohidrat yang ekstrem bisa menyebabkan hipoglikemia (gula darah turun drastis), yang dapat menimbulkan gejala seperti pusing, lemah, hingga pingsan.

Dr. Mulianah menyarankan agar pengurangan karbohidrat dilakukan secara perlahan, sambil tetap menjaga keseimbangan nutrisi tubuh.

Sebagai alternatif, kini tersedia nasi porang yang rendah kalori namun tinggi serat, sehingga bisa membantu menahan lapar lebih lama.

Namun demikian, pemilihan jenis karbohidrat harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

“Diet sebaiknya tidak hanya mengikuti tren, tapi harus direncanakan secara matang,” katanya.

Jika Anda tertarik mencoba diet tanpa nasi, berikut tips agar tetap sehat:

1. Ganti nasi putih dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, atau quinoa.

2. Turunkan asupan karbohidrat secara perlahan, bukan secara tiba-tiba.

3. Pastikan tubuh mendapatkan cukup protein dan lemak sehat agar tetap bertenaga.

4. Hindari makanan tinggi gula dan makanan olahan sebagai pengganti nasi.

5. Konsultasikan terlebih dahulu dengan ahli gizi atau dokter sebelum memulai diet. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Diet tanpa nasi #menurunkan berat badan #karbohidrat