Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penelitian Ungkap Penggunaan Ganja Jangka Panjang Turunkan Fungsi Pembuluh Darah, Picu Risiko Serangan Jantung

Nadia Nafifin • Kamis, 12 Juni 2025 | 16:31 WIB

 

Ilustrasi ganja yang disebut dapat picu serangan jantung.
Ilustrasi ganja yang disebut dapat picu serangan jantung.

RADARTUBAN - Pemakaian ganja dalam jangka panjang (kronis) dapat secara signifikan mengganggu kinerja pembuluh darah dan berpotensi memicu serangan jantung.

Dilansir dari Scitech Daily, Kamis (12/6), riset yang dilakukan oleh University of California, San Francisco (UC San Francisco) menunjukkan bahwa pengguna ganja mengalami penurunan fungsi pembuluh darah hingga 50 persen dibandingkan dengan individu yang tidak menggunakannya.

Lantas, apa dampaknya terhadap kesehatan jantung? Berikut penjelasan lengkapnya.

Dampak Penggunaan Ganja Kronis terhadap Risiko Serangan Jantung

Penelitian yang dipimpin oleh Leila Mohammadi, MD, PhD, bersama Mina Navabzadeh, PharmD, dan timnya, telah dipublikasikan di JAMA Cardiology pada 28 Mei 2025.

Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa konsumsi ganja secara kronis—baik melalui inhalasi maupun bentuk lainnya—dapat memberikan dampak serius pada sistem kardiovaskular.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang secara rutin menggunakan ganja dalam jangka panjang mengalami penurunan fungsi pembuluh darah yang signifikan, serupa dengan kondisi yang dialami oleh perokok aktif.

Bahkan, pengguna ganja kronis mengalami penurunan fungsi pembuluh darah hingga sekitar 50 persen dibandingkan dengan individu yang tidak mengonsumsinya.

Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terkena tekanan darah tinggi (hipertensi), serangan jantung, serta gangguan kardiovaskular lainnya.

Penelitian ini melibatkan 55 orang dewasa sehat yang rutin menggunakan ganja, dan dilakukan antara Oktober 2021 hingga Agustus 2024.

Para partisipan dikategorikan sebagai pengguna ganja rutin karena mengonsumsinya minimal tiga kali seminggu selama lebih dari satu tahun, tanpa mengonsumsi nikotin.

Mereka mengonsumsi ganja dengan cara menghisap atau melalui makanan yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC), senyawa psikoaktif utama dalam ganja.

Berdasarkan catatan para peneliti, rata-rata individu yang mengonsumsi ganja dengan cara dihisap telah melakukannya selama kurang lebih 10 tahun.

Sementara itu, mereka yang mengonsumsi ganja melalui makanan tercatat menggunakannya selama sekitar 5 tahun.

Perbedaan antara Ganja yang Dihisap dan yang Dikonsumsi

Penelitian ini juga mengungkap bahwa selain menurunkan fungsi pembuluh darah, penggunaan ganja dapat menyebabkan perubahan pada serum darah.

Perubahan ini dianggap serius karena dapat membahayakan sel endotel, yakni lapisan yang melapisi bagian dalam pembuluh darah dan sistem limfatik.

Menariknya, peserta penelitian yang mengonsumsi ganja dalam bentuk makanan mengandung THC tidak menunjukkan perubahan serupa pada serum darah mereka.

Meskipun belum sepenuhnya diketahui bagaimana THC merusak pembuluh darah, para peneliti menduga bahwa kerusakan tersebut terjadi melalui mekanisme yang tidak berkaitan langsung dengan perubahan serum darah.

Menurut penulis pertama Leila Mohammadi, MD, PhD dan penulis senior Matthew L. Springer, PhD, merokok ganja berdampak negatif pada fungsi pembuluh darah karena alasan yang berbeda dari konsumsi THC. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#jantung #University of California #ganja #pembuluh darah