Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Malaria: Ancaman Kesehatan yang Masih Mengintai Indonesia

Muhammad Rizqi Mustofa Kamal • Sabtu, 14 Juni 2025 | 03:35 WIB
Ilustrasi nyamuk malaria.
Ilustrasi nyamuk malaria.

RADARTUBAN - Meski dunia medis terus mengalami kemajuan, malaria tetap menjadi ancaman serius di Indonesia, terutama di daerah-daerah endemis.

Penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.

Jika tidak segera ditangani, infeksinya bisa berkembang dari gejala ringan menjadi kondisi yang berbahaya.

Dilansir dari liputan6.com, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSPI Sulianti Saroso, dr. Rizka Zainuddin, Sp.PD, mengingatkan bahwa malaria bukan sekadar penyakit ringan seperti flu biasa.

"Gejalanya bisa sangat bervariasi, mulai dari demam dan menggigil hingga komplikasi serius seperti penyakit kuning, gangguan fungsi ginjal dan hati, bahkan penurunan kesadaran," jelasnya.

Mengapa Malaria Sulit Diberantas?

Ada sejumlah tantangan dalam upaya memberantas malaria di Indonesia.

Salah satunya adalah kesulitan dalam mendeteksi penyakit ini sejak dini, karena gejalanya mirip dengan penyakit umum lainnya.

Selain itu, penyebaran malaria tidak merata dan lebih banyak ditemukan di wilayah timur Indonesia, seperti Papua, yang memiliki tingkat endemisitas tertinggi.

Nyamuk Anopheles berkembang biak di lingkungan dengan sanitasi buruk dan banyak genangan air.

Faktor lingkungan, kondisi geografis, serta keterbatasan akses layanan kesehatan juga menjadi penghambat dalam upaya pencegahan dan penanganan malaria.

Malaria vs. Demam Berdarah: Apa Bedanya?

Malaria kerap disamakan dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) karena sama-sama ditularkan oleh nyamuk, namun penyebab dan pola penyebarannya sangat berbeda.

Kenali Gejala Awal Malaria

Malaria bisa sulit dikenali karena gejala awalnya cukup umum, antara lain:

✅ Demam tinggi

✅ Menggigil

✅ Berkeringat berlebihan

✅ Sakit kepala

✅ Nyeri otot

✅ Rasa lemas

Jika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti kulit dan mata menguning, anemia berat akibat pecahnya sel darah merah, gangguan fungsi ginjal atau hati, bahkan kehilangan kesadaran.

Menurut dr. Rizka, kondisi ini terjadi karena parasit malaria menghancurkan sel darah merah secara bertahap.

"Di Indonesia sendiri, terdapat berbagai jenis Plasmodium, mulai dari P. vivax, P. ovale, P. malariae, hingga P. falciparum, dan masing-masing memerlukan penanganan medis yang berbeda," tambahnya.

Pencegahan Tetap Jadi Kunci

Salah satu tantangan besar dalam menghadapi malaria saat ini adalah meningkatnya resistansi terhadap obat antimalaria, terutama di daerah dengan tingkat endemisitas tinggi.

Beberapa pasien bahkan tidak lagi merespons pengobatan standar, sehingga terapi menjadi lebih kompleks dan membutuhkan pengawasan ketat.

Karena penularan malaria bergantung pada nyamuk, langkah-langkah pencegahan tetap menjadi strategi utama, seperti tidur menggunakan kelambu, mengoleskan obat antinyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan genangan air, dan deteksi dini jika muncul gejala.

"Sanitasi lingkungan adalah faktor kunci dalam memutus rantai penularan. Pastikan tidak ada genangan air agar nyamuk tidak punya tempat berkembang biak," tegas dr. Rizka. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Spesialis Penyakit Dalam #Endemis #malaria #Indonesia #betina