RADARTUBAN - Bagi banyak orang, kopi lebih dari sekadar minuman—dia menjadi bagian penting dari rutinitas harian yang menyambut pagi dan setia menemani saat bekerja lembur di malam hari.
Meski dikenal lewat aromanya yang khas dan rasa pahit yang disukai banyak orang, kopi juga kerap dikelilingi oleh berbagai anggapan keliru, terutama seputar kandungan kafeinnya.
Benarkah kafein bisa menambah energi? Apakah kopi berdampak negatif bagi kesehatan?
Artikel ini mengupas tuntas sejumlah mitos tersebut berdasarkan wawancara dilansir dari BBC Good Food bersama ahli gizi Holly Dunn dan barista Seb Wilkey, Jum'at (20/6).
1. Mitos: Kafein memberi energi
Faktanya kafein tidak secara langsung memberikan energi, melainkan mencegah kita merasa mengantuk.
Kafein bekerja dengan cara menghambat reseptor adenosin di otak—zat alami yang terakumulasi sepanjang hari dan bertanggung jawab menimbulkan rasa kantuk.
Dengan menghalangi kerja adenosin, kafein menciptakan sensasi lebih terjaga dan fokus.
Namun, ini bukan peningkatan energi yang sesungguhnya, melainkan efek semu dari penekanan rasa kantuk.
2. Mitos: Kopi buruk untuk kesehatan
Kenyataannya kopi memiliki dampak tergantung pada konteks konsumsi dan kondisi tubuh masing-masing.
"Efek kopi bisa berbeda tergantung genetik, usia, hormon, kondisi kesehatan, dan bahkan mikrobiota usus," kata ahli gizi Holly Dunn.
Dia menambahkan bahwa mengonsumsi kafein secara berlebihan—yaitu melebihi 400mg per hari—dapat menimbulkan sejumlah efek samping seperti rasa cemas, detak jantung yang meningkat, sakit kepala, dan gangguan tidur.
Sementara itu, bagi perempuan yang sedang hamil, disarankan untuk membatasi asupan kafein maksimal hingga 200mg per hari demi menjaga kesehatan diri dan janin.
3. Mitos: Kopi menyehatkan tubuh
Benar, jika dikonsumsi dalam jumlah sedang, kopi dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan, dan tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Kopi mengandung ribuan komponen bioaktif seperti polifenol, antioksidan, dan prebiotik yang berperan penting bagi tubuh. T
ak hanya itu, minuman ini juga merupakan sumber magnesium, kalium, serta vitamin B3 (niasin) dan vitamin E.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi kopi dalam batas wajar—sekitar tiga cangkir sehari—berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kronis, termasuk kanker, diabetes, dan gangguan kardiovaskular.
4. Mitos: Kopi tanpa kafein pasti hambar
Fakta: Berkat inovasi teknologi, rasa kopi tanpa kafein kini jauh lebih lezat.
Dulu, proses dekafeinasi menggunakan pelarut kimia seperti benzena yang dapat merusak cita rasa kopi.
Namun kini, metode modern seperti Swiss Water Process memungkinkan penghilangan kafein tanpa mengganggu profil rasa.
Selain itu, varietas kopi yang secara alami rendah kafein—seperti aramosa dan laurina—kian diminati.
Menjadi solusi menarik bagi penikmat kopi yang ingin mengurangi kafein tanpa mengorbankan kenikmatan minum kopi.
5. Mitos: Kopi harus disajikan panas
Cold brew bisa jadi pilihan yang lezat dan lebih lembut di lambung.
"Meski espresso panas di suhu 90-96 derajat Celsius masih jadi favorit, teknik seperti cold brew atau cold drip menawarkan profil rasa yang lebih manis dan halus," ujar barista Seb Wilkey.
Ini menjadi alternatif menyegarkan, terutama di cuaca panas, dan digemari oleh mereka yang ingin merasakan karakter biji kopi secara berbeda.
6. Mitos: Kafein menyebabkan kecanduan
Fakta: Kafein memang dapat menimbulkan ketergantungan, tetapi masih dalam batas yang dapat dikendalikan.
Jika dikonsumsi secara rutin, penghentian mendadak kafein bisa memicu gejala seperti sakit kepala, rasa lelah, dan perubahan suasana hati. Namun, risiko ini dapat diminimalkan dengan menjaga konsumsi tetap dalam batas aman—sekitar 400mg per hari untuk orang dewasa yang sehat.
Ahli gizi Dunn juga menekankan pentingnya mengenali respons tubuh masing-masing, karena sensitivitas terhadap kafein bisa berbeda pada tiap individu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama