Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Memahami Katarsis, Kunci Mengelola Emosi Negatif untuk Kesehatan Mental dan Fisik

Cindy Aulia Septiara • Rabu, 9 Juli 2025 | 23:40 WIB
Ilustrasi wanita berteriak melampiaskan kekesalan
Ilustrasi wanita berteriak melampiaskan kekesalan

RADARTUBAN - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak individu memiliki kecenderungan untuk menahan dan menyimpan emosi negatif, seperti kemarahan, kesedihan, atau rasa kecewa, tanpa mengungkapkannya.

Sayangnya, kebiasaan memendam perasaan ini dapat memberikan konsekuensi yang serius, baik bagi kesehatan mental maupun fisik, karena dapat memicu stres berkepanjangan dan gangguan keseimbangan emosional.

Dalam bidang psikologi, fenomena ini disebut katarsis, yaitu proses melepaskan emosi secara sadar untuk mendukung pemulihan batin dan keseimbangan emosional.

Istilah ini berasal dari bahasa Yunani kuno katharsis yang berarti ‘pemurnian’ atau ‘pembersihan’.

Psikolog Sigmund Freud bahkan menilai bahwa pelepasan emosi melalui katarsis penting agar individu tidak mengalami tekanan psikologis berkepanjangan.

Ketika emosi terus ditekan dan tidak tersalurkan dengan benar, tubuh bisa memberikan reaksi negatif, seperti sulit tidur, tekanan darah tinggi, stres kronis, hingga penurunan sistem imun.

Bahkan dalam beberapa kasus, bisa berujung pada gangguan kecemasan atau depresi.

Oleh sebab itu, para ahli menyarankan agar setiap individu belajar menyalurkan emosinya dengan cara yang sehat dan konstruktif.

Katarsis dapat diekspresikan melalui berbagai cara, seperti menangis, mencurahkan isi hati dalam jurnal, berbagi dengan seseorang yang dipercaya, atau menyalurkan emosi melalui aktivitas fisik seperti berolahraga.

Beberapa orang memilih mengekspresikan perasaannya melalui seni, baik melukis, menulis puisi, maupun bermusik sebagai bentuk katarsis kreatif yang menyegarkan.

Ada pula yang menemukan kelegaan lewat kegiatan fisik, seperti berlari atau menjerit di tempat sepi.

Intinya, apapun bentuknya, selama tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, katarsis dapat menjadi jalan keluar dari tekanan emosi yang selama ini terpendam.

Tapi tidak semua cara meluapkan emosi dapat dikategorikan sebagai katarsis yang sehat.

Meledak dalam kemarahan di media sosial atau melukai diri sendiri bukanlah bentuk penyembuhan, melainkan gejala dari tekanan yang belum tertangani dengan tepat.

Katarsis yang sehat seharusnya tidak hanya menjadi pelampiasan sesaat, tetapi juga momentum untuk mengenali perasaan dan memahami akar emosinya.

Dengan begitu, seseorang bisa lebih bijak dalam mengelola emosinya dan terhindar dari reaksi impulsif.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, memahami dan menerapkan katarsis dalam keseharian bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar untuk hidup lebih tenang dan sehat secara emosional. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#katarsis #memendam perasaan #melepaskan emosi #psikologi #emosi negatif #tekanan batin #kemarahan