RADARTUBAN - Kebiasaan menggigit kuku, atau onychophagia, bukan hanya berdampak pada estetika penampilan, tapi juga membuka peluang terjadinya masalah kesehatan serius.
Dokter dan ahli kesehatan memperingatkan bahwa kebiasaan ini dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri berbahaya ke dalam tubuh, serta menimbulkan luka dan infeksi di area mulut maupun kuku.
Jari manusia menyimpan berbagai jenis bakteri, termasuk E. coli dan Salmonella, yang bisa berpindah ke mulut saat kuku digigit.
Selain itu, kerusakan fisik akibat menggigit kuku secara terus-menerus dapat memicu infeksi jaringan, peradangan, dan bahkan gangguan pada gigi seperti gigi patah atau rahang nyeri.
Kebiasaan ini juga bisa menyebabkan kuku tumbuh tidak normal atau mengalami deformasi.
Meski dianggap sebagai kebiasaan ringan atau mekanisme stres, onychophagia sering kali memiliki akar psikologis seperti kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Mengabaikan kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi, terutama bila kebiasaan dilakukan dalam jangka panjang.
Anak-anak dan remaja paling rentan, sehingga pendekatan edukatif dan terapeutik sangat diperlukan.
Menurut American Academy of Dermatology, menggigit kuku merupakan kebiasaan umum yang dialami hingga 30% populasi dunia.
Untuk menghentikannya, banyak ahli menyarankan kombinasi strategi seperti menggunakan plester kuku, terapi perilaku kognitif (CBT), atau mengganti kebiasaan dengan aktivitas alternatif yang lebih sehat.
Meningkatkan kesadaran akan risiko kesehatannya adalah langkah awal yang krusial. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni