Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Remaja Jompo Bukan Sekadar Julukan, tapi Alarm Bagi Tubuh untuk Deretan Penyakit Ini

Shafa Dina Hayuning Mentari • Kamis, 10 Juli 2025 | 15:25 WIB
Ilustrasi remaja jompo jadi alarm gaya hidup instan dan minim gerak. Temukan cara mencegahnya agar tubuh tetap bugar di usia muda.
Ilustrasi remaja jompo jadi alarm gaya hidup instan dan minim gerak. Temukan cara mencegahnya agar tubuh tetap bugar di usia muda.

RADARTUBAN - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan digital yang serba cepat dan instan, muncul sebuah istilah baru yang terdengar nyeleneh sekaligus menggelitik: remaja jompo.

Sebuah frasa yang menyandingkan dua kutub yang seharusnya bertolak belakang—remaja yang identik dengan vitalitas dan kebugaran, dengan jompo yang lekat dengan lansia, lemah, pegal, dan sakit-sakitan.

Tapi anehnya, justru istilah ini makin relevan di kalangan anak muda hari ini.

Fenomena ini mulai mencuat sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020. Saat itu, dunia terpaksa diam.

Sekolah ditutup, perkuliahan pindah ke layar laptop, dan aktivitas luar ruangan terpangkas drastis. Di sanalah bibit-bibit kemalasan fisik mulai tumbuh.

Rebahan jadi rutinitas. Bergerak terasa mewah. Gadget menjadi satu-satunya jendela ke dunia luar.

Tak heran jika tubuh remaja yang seharusnya aktif dan lincah, justru mulai dikeluhkan sakit-sakitan.

Pinggang pegal, punggung nyeri, leher kaku, gampang capek, bahkan ngos-ngosan naik tangga.

Istilah remaja jompo ini bukan hanya candaan.

Dalam jurnal Phenomenological Study about “Remaja Jompo” in autobase @CollegeMenfess oleh Firstnanda & Annisa (2023), istilah ini lahir dari bahasa gaul platform X atau Twitter yang menggambarkan kenyataan pahit: anak muda yang masih belia tapi tubuhnya sudah berperilaku layaknya orang tua.

Sementara itu, penelitian B.J Sujibto (2022) dalam jurnal Remaja Jompo: Diskursus dan Praktik Gaya Hidup Pandemi menegaskan bahwa pembelajaran daring yang menuntut cepat dan cermat turut menyumbang kelelahan mental dan fisik, hingga berdampak pada penurunan kualitas hidup remaja.

Tak hanya masalah fisik, gaya hidup yang terbentuk selama pandemi juga berkontribusi terhadap kondisi ini.

Kafe, bioskop, tempat wisata tutup. Ruang rekreasi mental lenyap. Akibatnya, muncul gelombang baru rasa malas, mager, dan kecenderungan untuk menunda-nunda.

Sebuah kebiasaan yang akhirnya membuat banyak remaja merasa lebih cepat tua dibanding usia sebenarnya.

Starter pack-nya? Sudah pasti akrab: koyo, minyak angin, balsem, salep pegal, inhaler, hingga essential oil roll-on.

Meski terdengar jenaka, istilah remaja jompo sebetulnya menyimpan alarm yang cukup serius.

Minimnya aktivitas fisik, postur tubuh yang salah saat menatap layar gadget berjam-jam, tekanan akademik yang tak mengenal waktu, hingga gaya hidup serba instan—semuanya menyatu menjadi bom waktu bagi kesehatan generasi muda.

Tubuh terasa renta, produktivitas menurun, konsentrasi terganggu, dan perlahan muncul ketergantungan pada produk pereda nyeri.

Fenomena ini juga menunjukkan satu hal penting: remaja jompo bukan hanya ekspresi kelelahan fisik, tetapi juga bentuk coping mechanism generasi muda dalam menghadapi tekanan hidup yang berat, dikemas dengan bahasa yang ringan dan menghibur.

Humor menjadi cara untuk bertahan. Relate-ability jadi kekuatan.

Tentu saja, menjadi “jompo” di usia muda bukan takdir.

Ini bisa dicegah dan dibalikkan.

Mulai dari memperbanyak gerak, membatasi waktu layar, mengatur pola makan, memperbaiki postur tubuh, hingga memberi tubuh haknya untuk beristirahat dan terpapar sinar matahari.

Istilah ini bisa menjadi alarm yang lucu tapi menyentil: bahwa tubuh, sekuat apapun, butuh dijaga dan dihargai.

Dan siapa tahu, jika kita mulai bergerak hari ini, remaja jompo hanya akan jadi istilah viral yang tinggal cerita—bukan kenyataan yang menyakitkan.

Remaja Jompo, Bisa Jadi Tanda Penyakit:

1. Obesitas

Kalori menumpuk karena kurang aktivitas fisik → berat badan naik → risiko penyakit meningkat.

2. Diabetes Tipe 2

Kurang gerak bikin tubuh resisten terhadap insulin → kadar gula darah meningkat.

3. Penyakit Jantung

Gaya hidup pasif memperburuk kadar kolesterol, tekanan darah, dan sirkulasi → risiko jantung koroner naik.

4. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Tanpa aktivitas fisik, tekanan darah cenderung meningkat dan membebani jantung.

5. Osteoporosis dan Sarcopenia

Jarang bergerak = otot dan tulang makin lemah → gampang nyeri, tulang keropos, hingga patah tulang.

6. Nyeri Punggung dan Leher Kronis

Duduk terlalu lama tanpa peregangan atau olahraga → otot dan sendi kaku, postur memburuk.

Cara Terhindar dari Remaja Jompo:

1. Rutin Bergerak dan Olahraga
• Minimal jalan kaki 30 menit sehari.
• Pilih aktivitas ringan tapi konsisten: stretching, yoga, renang, atau bersepeda.
• Hindari duduk terlalu lama, bangkit dan regangkan tubuh tiap 1 jam.

2. Jaga Pola Makan Sehat
• Hindari makanan tinggi gula dan lemak jenuh (junk food, minuman manis).
• Perbanyak sayur, buah, dan protein sehat (ikan, tahu, telur).
• Cukupi kebutuhan air putih minimal 2 liter sehari.

3. Tidur Cukup dan Berkualitas
• Tidur malam 7–9 jam sangat penting untuk pemulihan tubuh.
• Hindari begadang, apalagi jika tidak produktif.
• Kurangi screen time 30 menit sebelum tidur.

4. Perbaiki Postur Tubuh
• Duduk tegak, jangan membungkuk saat di depan laptop/HP.
• Gunakan kursi dan meja yang ergonomis.
• Latih otot punggung dan perut agar menopang tubuh dengan benar.

5. Kelola Stres dengan Sehat
• Stres bisa memicu kelelahan kronis dan sakit kepala.
• Lakukan hobi, meditasi, journaling, atau ngobrol dengan teman.

6. Kurangi Gaya Hidup Sedentari
• Jangan cuma rebahan tiap ada waktu luang.
• Ganti waktu scroll media sosial dengan jalan santai atau merapikan kamar.
• Kombinasikan aktivitas digital dan fisik secara seimbang.

7. Jaga Kesehatan Kulit dan Sendi
• Gunakan pelembap kulit dan sunscreen, terutama jika sering di luar ruangan.
• Jangan abaikan nyeri sendi atau otot—bisa jadi itu sinyal awal kelelahan kronis.

8. Rutin Medical Check Up
• Cek postur tubuh, kolesterol, gula darah, dan vitamin D.
• Makin dini tahu kondisi tubuh, makin mudah dicegah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Pandemi Covid-19 #nyeri #rebahan #pegal #gadget #fenomena #Remaja jompo