RADARTUBAN - Apakah Anda pernah merasakan nyeri punggung yang menjalar hingga kaki, atau bahu yang terasa begitu kaku sampai sulit digerakkan?
Jangan anggap sepele. Gejala tersebut bisa menjadi sinyal awal dari masalah serius pada tulang belakang—khususnya saraf terjepit.
Dalam sebuah perbincangan bersama Dokter Tirta, terungkap pemaparan mendalam dari Dr. Mahdian Nur Nasution, ahli bedah saraf yang telah berkecimpung di bidang tulang belakang sejak 2013.
Dia menyampaikan fakta mengejutkan: saraf terjepit kini tak hanya mengincar usia lanjut, tapi juga banyak menyerang anak muda.
Gaya hidup modern, seperti olahraga gym yang dilakukan secara ekstrem tanpa teknik yang benar, disebut sebagai pemicu utama.
Menurutnya, terlalu memaksakan tubuh bisa menjadi bumerang bagi struktur tulang belakang.
Gejalanya tidak datang begitu saja. Dimulai dari nyeri, kebas, atau kesemutan, lalu berkembang menjadi kesulitan bergerak, bahkan gangguan fungsi kandung kemih dan usus.
Nyeri bukan untuk diabaikan, melainkan alarm tubuh yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres—bukan sekadar masalah otot yang bisa diatasi dengan obat pereda nyeri.
Untuk memastikan apakah saraf benar-benar terjepit, pemeriksaan MRI adalah satu-satunya cara yang dianjurkan.
Rontgen konvensional tidak cukup akurat karena tidak mampu menunjukkan struktur saraf dengan detail.
Dengan MRI, dokter dapat mendeteksi apakah keluhan berasal dari saraf terjepit, cedera otot, peradangan sendi, atau bahkan tumor.
Dalam menjaga kesehatan tulang belakang, olahraga yang disarankan adalah berenang.
Dokter Mahdian menyebutnya sebagai “obat mujarab” karena memberikan latihan otot yang baik sekaligus mengurangi tekanan gravitasi pada ruas tulang belakang.
Teknologi bedah pun telah mengalami evolusi signifikan. Dahulu, operasi identik dengan sayatan besar dan waktu pemulihan yang lama.
Sekarang, metode minimal invasif telah merevolusi dunia medis.
Jika dulu laminektomi memerlukan bukaan sekitar 10 cm, kini teknik mikrodiskektomi dengan bantuan mikroskop mampu mengurangi ukuran sayatan menjadi 2,5 hingga 5 cm.
Lebih canggih lagi, teknik endoskopi Joymax yang diperkenalkan di Indonesia sejak 2017 memungkinkan sayatan hanya 7 mm, bahkan 4 mm untuk kasus di area leher.
Prosedurnya cepat, presisi tinggi, dan dapat dilakukan dengan bius lokal.
Pasien bisa pulang dan beraktivitas normal dalam hitungan hari, meski biayanya berkisar antara 150 hingga 240 juta rupiah—jauh di atas metode konvensional yang biasanya di bawah 50 juta.
Meski teknologi makin maju, masyarakat tetap perlu waspada terhadap praktik manipulasi tulang belakang yang biasa disebut “keretek-keretek.”
Praktik ini memang bisa memberikan rasa lega sesaat, namun tidak memperbaiki masalah struktural.
Jika sudah terjadi pengapuran, patah tulang, atau saraf terjepit, manipulasi sembarangan justru bisa memperparah kondisi.
Maka dari itu, pemeriksaan MRI tetap menjadi syarat wajib sebelum melakukan tindakan seperti itu.
Dr. Mahdian memberikan pesan penting: jangan tunggu terlalu lama untuk memeriksakan kondisi Anda, terutama jika rasa nyeri bertahan lebih dari tiga hari meski sudah minum obat.
Tak semua kasus nyeri punggung berasal dari saraf terjepit, dan tidak semua kasus harus berujung pada operasi.
Edukasi perlu diberikan baik kepada lansia maupun generasi muda. Bagi anak muda, hindari latihan berat yang tidak sesuai kemampuan tubuh.
Dan bagi keluarga yang memiliki orang tua berisiko, ajak mereka memahami pentingnya pemeriksaan dini agar bisa terhindar dari komplikasi jangka panjang. (*)