RADARTUBAN - Menahan buang air besar terlalu sering adalah kebiasaan yang tampak sepele namun bisa menimbulkan dampak serius bagi kesehatan tubuh.
Meskipun sesekali menahan buang air besar (BAB) dianggap aman, kebiasaan ini jika dilakukan berulang-ulang dapat memicu komplikasi seperti sembelit, fekal impaksi, hingga inkontinensia tinja.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara aman menahan BAB dan risiko yang bisa timbul.
Dalam situasi tertentu seperti tidak adanya akses toilet, seseorang mungkin harus menahan buang air besar.
Untuk itu, ada beberapa teknik yang bisa dilakukan. Mengencangkan otot bokong dan berdiri atau berbaring, bukannya duduk atau jongkok, terbukti dapat membantu mengurangi dorongan untuk BAB.
Hindari juga konsumsi makanan tinggi serat dan minuman seperti kopi atau jus buah sebelum bepergian, agar tidak merangsang pencernaan.
Kebiasaan buang air besar sebelum meninggalkan rumah juga menjadi langkah preventif yang sangat efektif, terutama bagi mereka yang memiliki sistem pencernaan yang aktif.
Namun, teknik ini hanya bersifat sementara dan tidak boleh dijadikan kebiasaan.
Salah satu risiko menahan buang air besar yang paling umum adalah sembelit.
Kondisi ini ditandai dengan frekuensi BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu dan disertai tinja keras serta rasa sakit saat mengejan.
Bila tidak segera diatasi, sembelit bisa berkembang menjadi masalah kronis.
Risiko berikutnya adalah fekal impaksi. Ini terjadi ketika tinja yang tertahan menjadi sangat keras dan tersangkut di rektum.
Gejalanya meliputi nyeri perut, mual, dan tinja cair yang keluar secara tidak sengaja.
Dalam kasus berat, fekal impaksi dapat menyebabkan perforasi saluran pencernaan, yakni robeknya usus akibat tekanan tinggi dari tinja yang mengendap terlalu lama.
Selain itu, ada kemungkinan kerusakan otot dan saraf di rektum yang menyebabkan tubuh kehilangan refleks alami untuk BAB.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami inkontinensia tinja, yaitu ketidakmampuan mengontrol buang air besar, baik disadari maupun tidak.
Inkontinensia tinja adalah kondisi yang dapat muncul akibat kebiasaan menahan buang air besar. Kondisi ini bisa bersifat sementara atau kronis, tergantung tingkat kerusakan otot atau saraf.
Beberapa penyebab lain seperti sembelit kronis, wasir, atau rektum yang turun juga berkontribusi pada kondisi ini.
Gejalanya meliputi kentut berlebihan, kembung, diare, hingga kebocoran tinja.
Penanganan yang tepat seperti konsumsi obat antidiare atau pencahar, latihan otot panggul, perubahan pola makan, hingga prosedur bedah, bisa membantu memulihkan kontrol buang air besar.
Apabila seseorang mengalami perubahan pola buang air besar, baik dalam frekuensi, tekstur, maupun kemampuan menahan BAB, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Gejala inkontinensia atau sembelit yang berlangsung lama harus ditangani sedini mungkin untuk mencegah komplikasi.
Dengan pemahaman yang benar dan tindakan yang cepat, risiko dari menahan buang air besar terlalu sering bisa dihindari. Jangan remehkan sinyal dari tubuh Anda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni