Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perasaan Sensitif pada Lansia: Antara Butuh Diperhatikan dan Tak Ingin Dikasihani

Bihan Mokodompit • Jumat, 8 Agustus 2025 | 05:05 WIB
Ilustrasi Lansia dengan emosionalnya
Ilustrasi Lansia dengan emosionalnya

RADARTUBAN - Fenomena perasaan sensitif pada lansia menjadi tantangan yang semakin sering dihadapi masyarakat, khususnya oleh anggota keluarga yang merawat orang tua atau kerabat lanjut usia.

Perubahan suasana hati seperti mudah marah, sedih, atau tersinggung bukan sekadar gejala penuaan, melainkan bisa mengindikasikan adanya gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

 

Menurut dr. Erikavitri Yulianti SpKJ Subsp Ger (K), Dosen Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, memahami gejala umum dan pentingnya diagnosis dari ahli adalah langkah pertama dalam menangani perasaan sensitif pada lansia.

“Terjadinya tahap baru kehidupan seperti pensiun, kehilangan rutinitas yang diikuti kemunduran fisiknya dan kehidupan sosial yang semakin terbatas menyebabkan lansia merasa tidak berdaya apabila dibantu, namun apabila tidak dibantu akan merasa diabaikan. Sehingga akan cukup menantang bagi keluarga dalam memahami emosi lansia,” ungkapnya, Kamis (7/8).

Faktor-faktor pemicu seperti penurunan kemampuan kognitif, melemahnya sistem saraf, hingga perubahan pola tidur yang terputus-putus turut memperparah kondisi emosional.

Selain itu, efek samping dari obat-obatan penyakit degeneratif juga dapat memicu ketidaknyamanan fisik yang berdampak pada emosi.

 

Jika tidak ditangani dengan tepat, perasaan sensitif pada lansia berpotensi menimbulkan gangguan kejiwaan seperti depresi atau kecemasan.

“Dampak dari perasaan sensitif ini dapat meningkatkan risiko cemas dan depresi, penurunan hubungan sosial dan kemungkinan lansia mengisolasi diri. Selain itu, dampak lainnya yaitu menurunnya minat lansia dalam melakukan aktivitas sehari-sehari sehingga lansia akan lebih banyak berdiam diri,” jelas Erika.

Hal ini menandakan pentingnya diagnosis dini. Proses wawancara klinis dan observasi menjadi kunci dalam menilai kondisi lansia secara menyeluruh.

Psikiater dapat memeriksa perubahan pola tidur, nafsu makan, hingga penurunan aktivitas sebagai indikator awal.

“Selanjutnya psikiater dapat melakukan penilaian psikometri dengan beberapa instrumen untuk melihat kesesuaian dengan apa yang diungkapkan lansia untuk menyimpulkan status mental. Masih normal atau terdapat indikasi depresi dan gangguan kecemasan. Terapinya dapat dilakukan tanpa pemberian obat, namun apabila tidak efektif maka dapat diberikan obat sesuai dengan resep dokter,” tambahnya.

 

Pentingnya dukungan keluarga menjadi salah satu poin utama dalam menjaga stabilitas emosi dan kesehatan mental lansia.

Menurut Erika, menjaga komunikasi yang terbuka, membantu lansia bersosialisasi, dan mendukung kemandirian mereka menjadi langkah nyata dalam menjaga kualitas hidup lansia.

“Keluarga harus jeli melihat perbedaan perasaan sensitif normal yang frekuensinya sesekali dengan perasaan sensitif yang tidak normal apabila terjadi secara terus menerus tanpa penyebab yang jelas. Apabila terdapat perubahan sikap sosial, tidak bisa bersosialisasi, insomnia, hilang minat, putus asa hingga halusinasi segera konsultasikan pada psikiater,” pungkasnya.

Memahami dan merespons perasaan sensitif pada lansia bukan hanya soal kesabaran, namun juga soal pengetahuan dan empati.

Dengan perhatian yang tepat dan dukungan keluarga yang konsisten, risiko gangguan kejiwaan dapat diminimalisasi, serta kesehatan mental lansia bisa terjaga dengan lebih baik. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kecemasan #Emosional #depresi #gangguan jiwa #perasaan sensitif pada lansia #Gangguan Kesehatan Mental