Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Di Balik Senyum Palsu: Memahami Smiling Depression, Depresi Terselubung yang Sulit Dikenali

Siti Rohmah • Minggu, 10 Agustus 2025 | 02:35 WIB
ilustrasi Smiling Depression
ilustrasi Smiling Depression

RADARTUBAN- Di balik senyum hangat dan sikap ramah, sebagian orang menyimpan pergulatan batin yang tak terlihat.

Fenomena ini dikenal sebagai smiling depression, kondisi di mana seseorang mengalami gejala depresi namun tetap tampil ceria dan produktif di depan publik.

Meski tidak diakui secara resmi dalam panduan medis seperti DSM-5, istilah ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan bentuk depresi yang tersamar.

Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa smiling depression atau high-functioning depression banyak dialami oleh orang dewasa yang tetap menjalankan rutinitas sosial, bekerja, dan berinteraksi seperti biasa, padahal di dalam dirinya tengah bergulat dengan tekanan emosional yang besar.

“Mereka bisa tersenyum, bekerja, dan bersosialisasi seperti biasa, padahal sebenarnya sedang merasa hampa, cemas, atau putus asa,” ujarnya.

Kondisi ini berisiko tinggi karena sulit dikenali oleh orang sekitar. Banyak penderita tidak menunjukkan tanda-tanda depresi secara nyata, sehingga keluarga, teman, atau rekan kerja tidak menyadari bahwa mereka sedang berjuang secara mental.

Bahkan, menurut Arnold, ada kasus bunuh diri yang dilakukan oleh individu yang tampak bahagia dan aktif secara sosial.

Tekanan sosial dan budaya menjadi salah satu pemicu utama. Peran sebagai orang tua, pasangan, atau pemimpin membuat sebagian orang merasa harus selalu terlihat kuat.

Di sisi lain, stigma terhadap kesehatan mental memperburuk keadaan. Di banyak lingkungan, rasa sedih atau stres kerap dianggap sebagai tanda kurang bersyukur atau lemah iman.

“Banyak orang sejak kecil dibiasakan menahan emosi karena dianggap tidak pantas atau merepotkan, dan kebiasaan ini terbawa hingga dewasa,” jelas Arnold.

Gejala smiling depression bisa sangat halus. Beberapa di antaranya meliputi kelelahan emosional, hilangnya motivasi, rasa bersalah saat merasa sedih, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih menderita.

Penderitanya sering kali enggan mengeluh dan memilih menyembunyikan semua emosi di balik senyum.

Media sosial juga berperan dalam memperparah kondisi ini. Perbandingan terus-menerus dengan kehidupan orang lain di dunia maya menciptakan disonansi antara perasaan internal dan tampilan luar yang dipaksakan.

Arnold menekankan pentingnya membangun ruang aman untuk berbicara tentang perasaan, baik di keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja.

Pertanyaan sederhana dengan empati, seperti “Kamu benar-benar baik-baik saja?”, bisa membuka peluang bagi seseorang untuk jujur tentang kondisinya.

“Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tapi keberanian. Kita perlu mendukung siapa pun yang membutuhkan pertolongan profesional,” pungkasnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#senyum hangat #Pergulatan batin #kesehatan mental #gejala depresi #smiling depression #depresi #tampak ceria meski batinnya berjuang