RADARTUBAN – Hati-hati, cara lama bisa mematikan! Masih banyak masyarakat Indonesia yang salah kaprah dalam menangani gigitan ular berbisa.
Alih-alih menyelamatkan, justru mempercepat kerusakan jaringan hingga berakhir amputasi, bahkan kematian.
Peringatan keras ini datang dari dr. Tri Maharani, satu-satunya dokter spesialis gigitan ular berbisa di Indonesia.
Perempuan yang kerap turun langsung di medan darurat ini mengungkapkan bahwa penanganan tradisional seperti menyedot luka atau mengikat dengan tali kencang justru sangat berbahaya.
“Dulu orang percaya kalau bisa ular harus disedot atau luka digigit diikat kuat-kuat. Akibatnya, aliran darah terhenti, jaringan rusak, lalu berujung nekrosis dan amputasi,” kata dr. Tri Maharani dilansir dari bbc.com.
Dokter jebolan FK Universitas Brawijaya Malang itu menegaskan, metode tersebut merupakan kesalahan fatal yang hingga kini masih sering dilakukan.
Banyak korban justru kehilangan nyawa bukan semata karena bisanya, melainkan karena salah pertolongan pertama.
Menurut dr. Tri, hal utama yang harus dilakukan ketika digigit ular berbisa adalah menghentikan pergerakan bagian tubuh yang terkena gigitan.
“Kalau digigit ular lalu bagian tubuhnya bergerak, kontraksi otot akan mengaktifkan pompa kelenjar getah bening. Itu membuat bisa ular lebih cepat menyebar ke seluruh tubuh,” jelas dokter kelahiran Kediri berusia 54 tahun itu.
Artinya, semakin diam bagian tubuh yang digigit, semakin lambat racun menyebar. Korban sebaiknya ditenangkan, bagian tubuh yang tergigit diimobilisasi (dipasang bidai sederhana), lalu segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapat antivenom.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman ular terbanyak di Asia.
Namun, kesadaran masyarakat soal first aid gigitan ular berbisa masih minim.
Inilah yang membuat angka kasus kematian akibat gigitan ular masih tinggi, padahal sebenarnya bisa dicegah dengan penanganan tepat.
“Pengetahuan dasar ini harus disebarkan. Jangan sampai karena salah kaprah, korban kehilangan nyawa,” tegas dr. Tri.
Sebagai dokter yang konsisten mengedukasi publik, dr. Tri kerap membagikan ilmu lewat seminar, pelatihan, hingga turun langsung ke daerah rawan gigitan ular.
Baginya, meluruskan mitos berbahaya adalah bagian dari penyelamatan nyawa sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni