Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mitos atau Fakta GERD Tidak Bisa Disembuhkan? Begini Penjelasan Pakar Soal Cara Mengatasi Asam Lambung

Dyah Ayu Oktiara Putri • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 19:05 WIB
Ilustrasi perut nyeri akibat asam lambung naik
Ilustrasi perut nyeri akibat asam lambung naik

RADARTUBAN – GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease merupakan penyakit yang membuat penderitanya merasakan rasa yang tak nyaman di dada dan rasa terbakar di kerongkongan.

Gejalanya terus berulang dan membuat penderitanya merasa putus asa untuk bisa sembuh.

Akan tetapi, anggapan tersebut dibantah oleh pakar kesehatan saluran pencernaan Prof. Ari Fahrial Syam Sp.PD-KGEH.

Prof. Ari menegaskan bahwa sembuh dari GERD bukanlah hal yang mustahil asalkan dengan penanganan yang tepat, pola hidup sehat, dan pola makan yang teratur.

"GERD terjadi karena tekanan yang besar di lambung sehingga asam lambung keluar ke kerongkongan. Karenanya klep-nya harus kita rapatkan, bagaimana caranya? Ya dengan menjaga makanannya, mengurangi keju, cokelat, dan makanan berlemak," Ujar Prof. Ari. 

Asam lambung naik ke esofagus atau kerongkongan disebabkan oleh pola makan tinggi lemak yang membuat klep antara lambung dan kerongkongan melemah.

Sehingga jika dibiarkan, lama kelamaan asam lambung yang naik ke esofagus membuat esofagus terluka dan akhirnya menyempit.

Prof. Ari juga menjelaskan jika esofagus tidak kuat menerima tingkat keasaman atau pH 1-2.

"Lambung kita sejatinya siap dengan tingkat keasaman atau pH 1-2, tapi esofagus tempat balik arahnya asam lambung tidak kuat dengan tingkat pH itu, hanya kuat pH 5-6. Dampaknya tidak nyaman, rasa panas seperti terbakar atau heart burn," ungkapnya.

Penderita Gerd juga diharuskan menjalakan pengobatan dan meminum obat yang telah diresepkan oleh dokter selama kurang lebih dua bulan.

Selain menjalankan pengobatan dan menjaga pola makan, Prof. Ari juga menyarankan untuk menjaga berat badan agar tetap ideal supaya klep tidak mudah terbuka dan tetap rapat.

"Jadi ada dua hal yang menjadi kunci agar GERD bisa sembuh, pertama adalah mencegah agar tekanan lambung tidak tinggi dan klep menutup rapat," jelas Prof. Ari.

Terdapat obat baru selain obat golongan proton pump inhibitor (PPI) yang umum diberikan untuk mengobati penderita GERD, pilihan obat baru tersebut adalah obat golongan Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB).

Obat ini bekerja dengan langsung menghambat pompa proton sehingga penekanan produksi asam lambung menjadi lebih cepat dan efektif.

Jika dibandingkan dengan PPI, P-CAB memiliki keunggulan karena mampu memberikan efek lebih cepat sekaligus bertahan lebih lama dalam mengurangi produksi asam lambung.

Penelitian juga telah dilakukan di tiga rumah sakit Indonesia terhadap 134 pasien dan menunjukkan bahwa penggunaan obat P-CAB Fexuprazan mampu meredakan gejala heartburn dan regurgitasi dalam waktu rata-rata 15 hari, lebih cepat dibandingkan kelompok pengguna Esomeprazole yang membutuhkan sekitar 20 hari.

Dokter Stella Melisa, Chief Medical Officer Daewoong Pharmaceutical Indonesia mengakatakan jika obat P-CAB Fexuprazan telah digunakan di 30 negara dan telah mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat.

Di Indonesia sendiri, Fexuprazan sedang menunggu izin edar dari Badan POM RI setelah melakukan uji klinis terkait efektivitasnya.

“Bekerja sama dengan peneliti dalam negeri memungkinkan kami menghasilkan efikasi obat yang relevan dengan populasi Indonesia, sekaligus mendukung pengambilan keputusan terapi berbasis data di masa depan,” ungkapnya.

Dengan demikian, GERD dapat disembuhkan dengan pemahaman yang tepat dan pendampingan medis sehingga kualitas hidup penderita GERD dapat kembali normal. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gastroesophageal reflux disease #asam lambung #pola hidup sehat #saluran pencernaan #kerongkongan #lambung #gerd