RADARTUBAN - Saraf kejepit adalah istilah umum bagi kondisi di mana saraf tertekan oleh jaringan di sekitarnya, seperti tulang, otot, atau ligamen.
Kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri, kesemutan, hingga kelemahan otot.
Saraf kejepit atau pinched nerve terjadi ketika suatu jaringan memberi tekanan berlebihan pada saraf dan mengganggu fungsinya.
Kondisi ini dapat muncul di leher, punggung bawah, pergelangan tangan, hingga siku.
Gejala saraf kejepit antara lain: nyeri tajam menjalar, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan otot.
Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri seperti terbakar atau kesetrum.
"Kadang ada juga yang mengeluh kesemutan berkepanjangan, bahkan lemah otot di area tertentu,” ujar dr. Andika Pratama, Sp.S, seorang dokter spesialis saraf di Jakarta.
Dokter melakukan pemeriksaan fisik, lalu dapat meminta pencitraan seperti MRI atau CT scan.
Selain itu, tes elektrodiagnostik seperti EMG juga digunakan dalam diagnosis saraf kejepit.
Perawatan awal sering kali meliputi istirahat, penggunaan NSAIDs, kompres dingin/panas, serta fisioterapi. Ini adalah langkah awal dari treatment saraf kejepit.
Jika terapi awal tidak berhasil, dokter dapat memberikan injeksi kortikosteroid atau merekomendasikan operasi seperti diskektomi.
“Tidak semua kasus harus dioperasi. Sebagian besar bisa pulih dengan fisioterapi, olahraga teratur, serta pengobatan. Operasi baru dipertimbangkan bila nyeri sudah kronis atau ada kelemahan otot berat,” jelas dr. Andika.
Langkah pencegahan termasuk menjaga postur tubuh, rutin berolahraga, dan mempertahankan berat badan ideal. Hal ini sangat efektif sebagai bagian dari pencegahan saraf kejepit.
“Pencegahan paling sederhana adalah jangan duduk terlalu lama dengan posisi yang salah. Selain itu, latihan otot punggung dan perut bisa mengurangi risiko saraf kejepit,” pungkas dr. Andika. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni