RADARTUBAN – Masa remaja dikenal sebagai fase penuh tantangan. Mulai dari tuntutan sekolah, pertemanan, hingga pencarian jati diri kerap memicu stres.
Sayangnya, banyak remaja masih bingung menghadapinya dan justru melampiaskan emosi ke hal-hal yang negatif.
Melihat kondisi itu, peran orang tua maupun orang terdekat sangat dibutuhkan.
Namun, pendekatan yang dilakukan tidak bisa sebatas ceramah panjang. Dibutuhkan cara sederhana, santai, dan dekat dengan dunia remaja agar mereka lebih mudah mempraktikkan.
Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah memvalidasi perasaan remaja.
Masalah yang bagi orang dewasa dianggap sepele, seperti gagal ujian atau berselisih dengan teman, bisa menjadi beban berat bagi mereka.
Daripada meremehkan, orang tua disarankan memberikan empati dengan kalimat yang menenangkan.
Selain itu, teknik relaksasi sederhana juga bisa diajarkan. Misalnya dengan menarik napas dalam, melakukan peregangan singkat, atau mendengarkan musik favorit.
Kebiasaan kecil ini dapat melatih otak remaja agar tidak mudah panik saat menghadapi tekanan.
Tidak kalah penting, aktivitas fisik menjadi salah satu kunci mengurangi stres.
Berlari, bermain futsal, bersepeda, hingga jalan santai terbukti dapat meningkatkan hormon bahagia. Dengan begitu, remaja tidak hanya terjebak rebahan dan overthinking.
Upaya lain adalah mendorong remaja menekuni hobi produktif. Menggambar, menulis, memasak, hingga membuat konten kreatif bisa menjadi pelampiasan positif sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
Di era digital, orang tua juga perlu mengajarkan detoks media social. Caranya dengan membatasi waktu bermain gadget atau membuat jadwal tanpa media sosial.
Sebagai gantinya, ajak remaja melakukan aktivitas nyata seperti membaca buku atau berkreasi.
Mengajarkan remaja mengelola stres memang tidak instan. Butuh kesabaran dan komunikasi yang tepat.
Namun, jika dibiasakan sejak dini, remaja akan lebih siap menghadapi tantangan hidup di masa depan. (*)