RADARTUBAN - Apa yang harus dilakukan orang tua jika terlanjur membentak anak?
Pertanyaan itu dijawab oleh dr. Aisah Dahlan, Praktisi Neuroparenting Skill dan juga Ketua Asosiasi Rehabilitasi Sosial Narkoba Indonesia, dalam sebuah podcast Mom’s Corner yang disiarkan pada Sabtu, 1 Juni 2024.
Dia menjelaskan alasan ilmiah di balik dampak bentakan terhadap anak serta langkah yang sebaiknya segera dilakukan orang tua.
Menurut dr. Aisah, membentak anak bukan sekadar masalah emosi sesaat, melainkan dapat menimbulkan rekaman memori negatif di otak anak.
Rekaman itu terbentuk melalui neuron atau sel saraf menyimpan setiap pengalaman anak, lalu memperkuatnya dengan neurotransmitter, zat kimia otak yang diibaratkan seperti “lem” pengikat memori.
“Kalau peristiwa yang dialami anak itu sangat ekstrim, baik positif maupun negatif, otak akan merekamnya lebih kuat. Bentakan keras termasuk yang mudah diingat seumur hidup,” jelasnya.
Meski begitu, dr. Aisah menekankan bahwa orang tua tetap bisa memperbaiki kondisi tersebut.
Caranya adalah dengan segera meminta maaf kepada anak dan memberikan penjelasan ulang.
“Ucapkan maaf dengan tulus. Katakan bahwa ibu atau ayah marah karena kaget atau takut anak terluka. Dengan begitu, memori negatif bisa diberi makna baru sehingga anak tidak menyimpan luka mendalam,” ujarnya.
Lebih jauh, dr. Aisah memperkenalkan konsep neuroparenting, yakni pola asuh berdasarkan pemahaman cara kerja otak.
Dia menjelaskan bahwa anak sejak lahir membawa program bawaan berupa watak dan bakat.
Lingkungan kemudian berperan mengukir program tersebut.
“Kalau kita tau watak dan bakat anak sejak kecil, kita lebih mudah memberi arahan yang tepat,” ujarnya.
Selain itu, dia memperkenalkan konsep “lima baterai kasih sayang” yang harus diisi setiap hari, terutama pada anak usia di bawah lima tahun.
Lima baterai tersebut terdiri dari pujian, pelukan, waktu berkualitas, pelayanan, dan hadiah.
Jika salah satu baterai kosong, anak berisiko mengalami perilaku menyimpang, seperti tantrum, mudah marah, atau bahkan menarik diri.
“Banyak orang tua lupa, padahal kebutuhan emosional anak sama pentingnya dengan kebutuhan fisiknya. Kalau baterai kasih sayang ini penuh, anak akan lebih mudah diatur dan tumbuh dengan perasaan aman,” terang dr. Aisah.
Dia juga mengingatkan orang tua agar bijak dalam menghadapi tantrum.
Menurutnya, emosi anak harus diberi kesempatan untuk keluar terlebih dahulu. Setelah itu, barulah orang tua bias menenangkan dan memberi nasihat.
“Jangan menasihati anak ketika sedang tantrum. Tunggu ia tenang dulu, baru masuk dengan bahasa kasih yang sesuai,” tambahnya.
Dengan pemahaman neuroparenting, orang tua diharapkan mampu mengelola emosi, meminta maaf ketika khilaf, dan konsistensi mengisi lima baterai kasih sayang agar anak tumbuh sehat secara fisik maupun emosional. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama