Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ancaman Jantung Tak Lagi karena Sudah Tua: Gaya Hidup Modern Memicu Serangan di Usia Muda

Silva Ayu Triani • Rabu, 1 Oktober 2025 | 15:53 WIB
Ilustrasi orang sakit jantung.
Ilustrasi orang sakit jantung.

RADARTUBAN - Kasus serangan jantung tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut, melainkan kini semakin banyak menyerang kelompok usia muda.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena gejala penyakit jantung sudah ditemukan bahkan sejak usia 20-an.

Hal tersebut diungkapkan dr. Swastya Dwi Putra, Sp.JP, spesialis jantung dan pembuluh darah, pada Senin (16/6), dalam podcast Improved Body yang tayang di YouTube Rory Asyari.

Pergeseran usia penderita serangan jantung ini dipicu terutama oleh gaya hidup modern yang tidak sehat, menyebabkan masalah kardiovaskular terjadi lebih awal.

Kondisi ini menggaris bawahi urgensi perubahan gaya hidup dan pentingnya skrining dini.

"Saya pernah mendapat kasus usia termuda yang mengalami serangan jantung, pasien saya adalah di 21 tahun," ujar dr. Putra.

Penyebab utama dari peningkatan kasus ini adalah pola makan yang didominasi oleh makanan tinggi kolesterol dan gula.

Konsumsi berlebihan terhadap makanan manis, gorengan (terutama yang menggunakan minyak jelantah/dipakai berulang), dan makanan cepat saji menyebabkan tingginya kadar LDL (kolesterol jahat).

LDL yang teroksidasi ini memicu peradangan pada pembuluh darah dan mempermudah penempelan plak.

Plak yang menumpuk, meskipun kecil, berisiko pecah atau ruptur, yang kemudian menyumbat pembuluh darah di bagian yang lebih kecil dan memicu serangan jantung mendadak. Fenomena ini menunjukkan urgensi yang mengkhawatirkan.

Faktor risiko lain yang sangat dominan adalah kebiasaan merokok dan menggunakan rokok elektrik (vape).

Kandungan nikotin dalam produk-produk tersebut dianggap sama berbahayanya karena dapat merusak fungsi endotel pembuluh darah, yang mempercepat proses peradangan dan pembentukan plak.

Ditegaskan bahwa vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional.

Konsumsi alkohol berlebihan juga memiliki jalur mekanis yang sama dalam mengganggu kesehatan pembuluh darah dan meningkatkan risiko hipertensi.

Aspek istirahat juga krusial, dianjurkan untuk mencukupi waktu tidur malam selama 6 hingga 8 jam, karena tidur malam adalah periode tubuh mengeluarkan zat penting untuk kesehatan dan pemulihan, berbeda dengan tidur siang atau upaya "balas dendam" tidur di akhir pekan yang kurang efektif.

Untuk meminimalisir risiko, skrining atau pemeriksaan kesehatan secara berkala (medical check-up) direkomendasikan.

Skrining sangat penting untuk mendeteksi sumbatan, gangguan irama jantung, atau kelainan bawaan sejak dini, bahkan bagi mereka yang merasa sehat.

"Kita sudah mulai anjurkan untuk screening di usia 20-an," tegas dr. Putra.

Meskipun olahraga sangat dianjurkan (aerobik, minimal 30 menit, 5–7 kali seminggu), olahraga yang terlalu berat tanpa mengetahui kondisi jantung dapat berakibat fatal (kematian mendadak).

Parameter denyut jantung maksimal (220 dikurangi usia) harus dipantau saat berolahraga, dan ketika mencapai batas, intensitas harus diturunkan.

Umur panjang yang berkualitas dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup yang teratur.

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai gejala serangan jantung, yang ditandai dengan rasa tidak nyaman di dada.

"Nyeri dadanya beda, dia bukan kayak ketusuk-tusuk... tapi dia kayak ketindih berat," jelas dr. Putra. Keluhan tersebut sering menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung belakang, dan biasanya semakin terasa saat melakukan aktivitas fisik. Jika mengalami gejala ini, segera lakukan pemeriksaan medis. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gaya hidup #pola makan #kurang tidur #rokok #penyakit jantung #serangan jantung