RADARTUBAN - Kesadaran akan pentingnya menjaga pola makan sehat semakin mendesak di tengah meningkatnya kasus penyakit metabolik pada usia muda.
Peran gizi yang tepat tidak hanya berpengaruh pada kesehatan, tetapi juga pada performa tubuh sehari-hari hingga prestasi atlet.
Hal ini disampaikan oleh dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK, pada Rabu (24/9) dalam podcast CEO Room With Marianne Rumantir yang tayang di YouTube TS Media.
Beberapa kasus klinis yang disorot menjadi pengingat keras akan bahaya pola makan yang buruk.
"Gizi yang tidak memadai dapat membuat latihan fisik yang intens menjadi sia-sia; tubuh diibaratkan mobil mewah yang diisi dengan bahan bakar yang buruk," tegas dr. Putu Pande.
Salah satu kasus mengejutkan adalah anak berusia tujuh tahun yang mengalami gejala menyerupai stroke akibat kebiasaan mengonsumsi ayam goreng tepung hampir setiap hari.
Tepung yang digoreng diketahui menyerap lebih banyak minyak, menambah kalori kosong, dan memicu gangguan metabolisme.
Dalam dunia olahraga, disiplin gizi berperan penting menjaga performa atlet.
Disiplin hidrasi, pemilihan jenis karbohidrat, serta protein yang sesuai dianggap sama pentingnya dengan intensitas latihan.
Prinsip ini juga berlaku bagi masyarakat umum, termasuk dalam aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau naik tangga yang sering digantikan kendaraan dan eskalator.
Untuk masyarakat umum, pola tidur dan waktu makan yang disiplin menjadi fondasi utama.
"Waktu istirahat sangat krusial bagi metabolisme. Tidur ideal disarankan mulai pukul 21.00 hingga maksimal 22.00 dan bangun pukul 05.00," jelas dr. Putu Pande.
Asupan harian harus mencakup sarapan, makan siang, dan makan malam, dengan sarapan ideal antara pukul 06.30 hingga 07.00 dan makan malam tidak lewat dari pukul 19.00.
Porsi makanan harus mudah diukur, di mana porsi karbohidrat disarankan seukuran kepalan tangan.
Pencegahan penyakit metabolik, seperti hipertensi dan diabetes yang kini menyerang usia muda, sangat bergantung pada batasan terhadap tiga komponen utama.
Makanan kekinian yang mengandung gula berlebih harus dihindari, dan konsumsi tepung-tepungan diimbau untuk dikurangi karena menambah kalori tanpa gizi yang optimal.
Selain itu, penggunaan minyak goreng sebaiknya dibatasi maksimal dua kali pemakaian, terutama dengan metode deep fry.
Terkait penyedap rasa, dr. Putu Pande menjelaskan bahwa MSG (Monosodium Glutamat) tidak berbahaya selama tidak dikonsumsi berlebihan.
Secara alami, MSG akan memicu rasa pahit jika terlalu banyak dikonsumsi, yang sekaligus menjadi batasan alami tubuh.
“MSG tidak berbahaya selama tidak berlebihan; justru konsumsi garam yang berlebihan yang menjadi masalah utama,” ujar dr. Putu Pande.
Masyarakat juga diingatkan bahwa makanan sehat tidak identik dengan harga mahal. Bahan pangan lokal seperti tempe, telur, dan ikan kembung sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi.
Kunci utama hidup sehat adalah disiplin, konsistensi, dan kembali pada tradisi masakan lokal yang menghindari modifikasi berlebihan.
Badan adalah aset tunggal yang harus dijaga tanpa mencari solusi instan, sebab sesuatu yang instan dalam konteks metabolisme dan kesehatan patut dipertanyakan. (*/tia)
Editor : radar tuban digital