Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Serangan panik tak pandang bulu! Dini Fidyanti Devi M.Psi Ingatkan Bahaya Abaikan Alarm Tubuh dan Self-Diagnosis

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Kamis, 2 Oktober 2025 | 12:05 WIB
Bahaya Serangan Panik, Alarm Tubuh yang Sering Diabaikan & Pentingnya Menghindari Self-Diagnosis
Bahaya Serangan Panik, Alarm Tubuh yang Sering Diabaikan & Pentingnya Menghindari Self-Diagnosis

RADARTUBAN - Serangan panik (panic attack) dapat terjadi tiba-tiba tanpa sebab yang jelas dan menyerang siapa, kapan, dan dimana saja, terutama di kerumunan yang padat dan berpotensi bahaya.

Untuk membagikan pengetahuannya terkait hal tersebut, Dini Fidyanti Devi, M.Psi., hadir dalam podcast Sapa Sehat di kanal YouTube UMM Hospital.

Serangan ini ditandai oleh rasa takut berlebihan yang memicu gejala fisik seperti jantung berdebar-debar, sesak napas, pusing, hingga rasa lemas yang bisa berujung pada hilangnya kesadaran.

Bahkan, penderitanya sering merasa seolah-olah mereka akan mati, sehingga kemampuan berpikir menjadi kabur dan sulit konsentrasi.

Serangan panik bisa dialami oleh siapa saja dalam situasi stres ekstrim, seperti bencana atau kerumunan padat.

Kondisi ini perlu kena penanganan segera agar tidak berkepanjangan menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.

“Sebelum mengarah ke kondisi yang lebih darurat lagi, sebaiknya segera periksa ke profesionalnya, bisa ke ahli kejiwaan baik psikolog klinis atau ke psikiater,” tegas Dini.

Selain korban langsung, dampak psikologisnya juga dirasakan oleh keluarga korban maupun masyarakat umum yang menyaksikan kejadian tersebut, terutama ketika banyak foto dan video tanpa filter dari tragedi tersebar luas di media sosial.

Hal itu dapat memicu ketakutan berulang dan was-was yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, beberapa orang yang belum pernah mengalami serangan panik pun bisa mengalami ketakutan berlebih untuk berada di kerumunan, yang menjadi trauma psikologis tersendiri.

Serangan ini tidak memandang usia ataupun jenis kelamin, namun yang lebih rentan adalah wanita.

Pada anak-anak, serangan panik sulit terdeteksi karena mereka belum mampu mengungkapkan perasaannya dan menunjukkan perilaku rewel atau gangguan tidur.

Pada orang dewasa, situasi stres seperti menghadapi presentasi atau kerumunan besar dapat menjadi pemicu serangan panik.

Jika gejala tersebut berlangsung lama, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional untuk diagnosis dan penanganan lanjut seperti terapi atau obat.

Serangan panik dapat menjadi alarm tubuh yang menandakan kondisi psikis dan fisik yang tidak baik.

Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berujung pada stres berkepanjangan, depresi, bahkan tindakan bunuh diri atau self-harm.

Pembatasan penggunaan media sosial berlebihan dan pengurangan overthinking dapat membantu mengelola kesehatan mental.

Jangan biarkan diri terus terjebak pada diagnosa sendiri yang salah (self-diagnosis) karena hal ini justru bisa memperburuk kondisi.

Teknik berdiri yang stabil dan pertolongan pertama seperti CPR dapat dilakukan untuk membantu korban sesak napas atau pingsan sebelum tenaga medis hadir.

Kesadaran akan kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan harus mendapatkan perhatian serius agar fungsi sosial dan kehidupan sehari-hari tidak terganggu. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#self diagnosis #lemas #Takut Berlebihan Akan Berbuat Salah #panic attack #serangan panik #kesehatan jiwa #gangguan psikologis #panik