RADARTUBAN – Masalah kesehatan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) kerap menjadi perhatian masyarakat.
Banyak mitos berkembang, mulai dari penggunaan perangkat audio, kebiasaan minum es, hingga gangguan tidur dan gaya hidup modern yang memengaruhi kesehatan organ THT.
Seorang ahli THT, dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.THT-KL., dalam podcast Suaratirta di YouTube Tirta PengPengPeng, menjelaskan sejumlah fakta medis untuk meluruskan anggapan yang keliru.
Terkait penggunaan perangkat audio seperti TWS dan earplug, ia menegaskan durasi dan intensitas menjadi kunci.
Untuk menghindari kerusakan, para profesional menyarankan untuk menerapkan ‘aturan 60’ yang membatasi penggunaan hingga 60 menit per sesi dengan intensitas maksimal 60% dari volume perangkat.
Penggunaan yang berlebihan, terutama saat tidur, dapat membuat organ pendengaran bekerja tanpa henti, yang mempercepat potensi kerusakan.
"Tidak boleh lebih dari 60 menit setiap kali pemakaian konsekutif terus intensitasnya tidak boleh lebih dari 60% kekuatan device-nya," tegas dr. Boni.
Selain itu, sinusitis juga menjadi keluhan umum. Penyebabnya bisa berasal dari hidung maupun gigi.
Gejala berupa nyeri kepala dan rasa tertekan semakin terasa saat berada di ketinggian, misalnya di dalam pesawat.
Hal ini disebabkan sumbatan pada rongga sinus yang membuat perbedaan tekanan lebih menyiksa.
Untuk pencegahan, irigasi hidung dengan larutan saline 0,9% direkomendasikan karena aman, murah, dan efektif menjaga kebersihan saluran napas.
Mitos seputar minuman dingin pun dikupas. Suhu rendah dapat memperlambat gerakan silia di mukosa hidung, yang berfungsi membersihkan partikel asing.
Bila silia tidak bergerak optimal, risiko infeksi meningkat. Sebaliknya, minuman hangat justru membantu memperlancar fungsi tersebut. Alergi yang muncul di usia dewasa juga bisa dipicu oleh perubahan hormon atau tubuh yang sedang “belajar” menghadapi zat baru.
Gangguan tidur seperti mendengkur menjadi perhatian berikutnya. Kondisi ini terjadi karena penyempitan saluran napas atas.
Faktor pemicunya meliputi obesitas, otot lidah yang kendur, atau amandel yang membesar.
Jika berlanjut, mendengkur parah bisa menurunkan kadar oksigen ke otak.
Dampaknya, seseorang tetap merasa lelah meskipun sudah tidur lama. Amandel sendiri hanya berfungsi maksimal hingga usia sekitar enam tahun.
Setelah itu, jika ukurannya tetap besar, justru berisiko menghambat pernapasan.
Masalah gaya hidup modern seperti penggunaan rokok elektrik (vaping) juga dikritisi.
Memasukkan zat asing ke tenggorokan akan memicu reaksi tubuh berupa peradangan.
Selain itu, paparan musik keras hingga 130 desibel memang menimbulkan rasa euforia akibat pelepasan dopamin dan adrenalin, tetapi kebiasaan ini berbahaya bagi pendengaran dalam jangka panjang.
Dr. Boni mengingatkan bahwa semua tindakan memiliki konsekuensi. Termasuk kecemasan berlebih yang sering diabaikan.
Stres dapat memicu naiknya asam lambung atau GERD, yang dampaknya bisa dirasakan pada tenggorokan.
“Semua itu ada konsekuensinya. Jadi kalau sudah memilih, ketika konsekuensi itu datang harus siap dihadapi,” ujarnya.
Pada akhirnya, kesehatan THT sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari.
Pola hidup yang seimbang dan perhatian terhadap pencegahan dapat membantu masyarakat terhindar dari berbagai gangguan yang mengganggu aktivitas maupun kualitas hidup. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni