RADARTUBAN – Demi tubuh ideal, banyak orang rela menjalani berbagai program diet ekstrem.
Mulai dari tidak makan malam, hanya minum jus, hingga olahraga berlebihan.
Padahal, menurut dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, Sp.G.K, Dokter Spesialis Gizi Klinik, langkah-langkah tersebut justru bisa menjadi boomerang bagi tubuh.
Dalam obrolan santai di kanal YouTube Nikita Willy, yang tayang pada 4 Oktober 2025, dr. Diana menegaskan bahwa diet sejati bukan tentang menyiksa diri, melainkan tentang mencintai tubuh dengan cara yang benar.
“Diet itu bukan soal menahan lapar, tapi mengatur pola makan agar tubuh tetap kuat, sehat, dan bahagia,” jelasnya.
Baca Juga: Ikuti Saran Diet dari ChatGPT, Pria 60 Tahun Keracunan Natrium Bromida
Pola Makan: Bukan ‘Skip’, Tapi ‘Atur’
Dr. Diana meluruskan pemahaman keliru yang sering ditemui dalam dunia diet.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan bukan pada seberapa sedikit seseorang makan, melainkan bagaimana mengatur asupan dengan sadar (mindful eating).
“Beda orang, beda kebutuhan. Jangan ikut-ikutan tren diet yang belum tentu cocok untuk tubuhmu,” ujarnya.
Ia menegaskan, pola makan ideal harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, aktivitas harian, serta riwayat kesehatan masing-masing individu.
Mitos Diet yang Perlu Kamu Lupakan
Ada banyak kesalahpahaman soal diet yang justru bisa membuat orang semakin stres dan kehilangan arah. Dr. Diana pun membongkar beberapa di antaranya:
-
Mitos Makan Malam: Banyak yang percaya makan malam bikin gemuk.
Padahal, tubuh tetap butuh energi di malam hari — yang penting porsi dan jenis makanannya tepat.
-
Mitos Air Es: Air dingin tidak bikin perut buncit! Kenaikan berat badan hanya terjadi jika kalori yang masuk lebih banyak dari yang keluar.
-
Mitos Ngemil: Ngemil bukan dosa, asalkan tahu batasnya.
“Lebih baik makan sedikit makanan yang kamu suka dengan sadar, daripada menahan diri tapi ujungnya kalap makan camilan ‘sehat’ yang kalorinya malah tinggi,” ungkap dr. Diana sambil tersenyum
Bijak dalam Memilih Olahraga
Tren olahraga seperti paddle atau bulu tangkis sedang naik daun, namun dr. Diana mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati — terutama bagi mereka yang obesitas atau baru mulai berolahraga.
“Olahraga permainan itu bagus, tapi bukan latihan kekuatan. Gerakannya sering mendadak dan bisa bikin cedera sendi,” katanya.
Idealnya, imbangi dengan latihan kekuatan dua hingga tiga kali seminggu agar tubuh lebih siap dan stabil.
Untuk yang hanya sempat olahraga malam hari, ia menyarankan intensitas ringan hingga sedang.
“Kalau terlalu berat, bisa-bisa malah sulit tidur karena detak jantung dan hormon masih tinggi,” ujarnya.
Ukuran Sukses Diet Bukan di Timbangan
Menurut dr. Diana, keberhasilan diet tidak diukur dari angka di timbangan, tapi dari perubahan kualitas hidup: tidur lebih nyenyak, tidak mudah lelah, maag berkurang, dan sendi terasa lebih ringan.
“Mulai saja sekarang. Tidak perlu menunggu momen sempurna atau beli bahan mahal,” sarannya.
Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan antara lain:
- Pilih lauk panggang atau pepes daripada gorengan.
- Ganti soto bersantan dengan soto bening.
- Alihkan minuman manis ke air mineral atau teh/kopi tawar.
Peran Ibu dalam Gaya Hidup Sehat
Menutup perbincangan, dr. Diana menekankan pentingnya peran ibu dalam membentuk kebiasaan sehat keluarga.
“Ibu adalah dapur utama keluarga — bukan cuma soal masak, tapi soal membentuk pola hidup seluruh anggota keluarga,” tegasnya.
Dengan gaya hidup sehat yang realistis dan berkelanjutan, dr. Diana berharap masyarakat berhenti menyiksa diri demi angka di timbangan, dan mulai mencintai diri lewat pola makan serta olahraga yang seimbang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni