RADARTUBAN - Penyakit epilepsi atau ayan masih sering disalahpahami oleh masyarakat sebagai kondisi menular atau bahkan akibat gangguan gaib.
Padahal, epilepsi merupakan gangguan saraf yang terjadi ketika aliran listrik di otak terganggu, sehingga menyebabkan kejang mendadak dan berulang.
Serangan ini dapat berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa, dan tidak menular.
Kejadian ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, serta dapat diakibatkan oleh berbagai penyebab, seperti keturunan, trauma kepala, infeksi otak, hingga faktor pemicu seperti kurang tidur dan konsumsi alkohol.
Hal ini diungkap oleh ahli forensik dan patologi, dr. Djaja Surya Atmadja, Sp.FM., DFM., SH., PhD, dalam podcast X-Undercover pada Rabu (24/9).
Epilepsi bukan hanya sekadar kejang-kejang yang mengguncang tubuh, tetapi berupa gangguan listrik di otak yang menyebabkan berbagai jenis kejang.
Terdapat kejang yang menyerang seluruh tubuh disebut grand mal, dan kejang kecil yang hanya menyerang sebagian tubuh atau kesadaran sebagian hilang sementara.
Ada pula kejang psikomotor yang membuat penderitanya berjalan tanpa sadar dan tidak ingat setelahnya.
“Otak kita itu seperti jaringan kabel listrik. Kalau arusnya tidak teratur, terjadilah kejang,” ujar dr. Djaja.
Penyebab epilepsi sangat bervariasi, antara lain demam tinggi saat anak-anak, trauma kepala akibat kecelakaan, infeksi otak, gangguan elektrolit, factor keturunan, konsumsi alkohol, dan beberapa jenis obat-obatan.
Namun, sekitar 50 persen kasus terjadi tanpa penyebab yang jelas. Oleh karena itu, penanganan epilepsi harus disesuaikan dengan penyebabnya agar efektif.
“Kadang semua hasil pemeriksaan bersih, tapi tetap muncul gejala kejang. Bisa jadi akibat gangguan natrium atau kalsium,” jelas dr. Djaja.
Selain penyebab utama, terdapat pemicu atau trigger yang dapat menimbulkan serangan, seperti kurang tidur, kelaparan, stres, serta paparan cahaya berkedip dari lampu disko atau api unggun.
Karena itu, penderita disarankan menghindari tempat dengan pencahayaan yang dapat memicu kejang.
Ketika kejang terjadi, penderita memerlukan pertolongan segera. Selama serangan, tubuh kehilangan kendali dan membutuhkan oksigen lebih banyak, yang kadang menyebabkan keluar busa dari mulut.
“Yang penting jangan panik. Lindungi dari benda keras, jangan masukkan jari ke mulut, dan segera bawa ke dokter,” imbau dr. Djaja.
Epilepsi dapat dikontrol dengan obat antikejang yang diminum secara rutin dan seumur hidup bagi sebagian penderita.
Jika penyebabnya jelas, seperti infeksi atau tumor, maka pengobatan diarahkan untuk mengatasi sumber gangguan tersebut.
Dengan pemahaman yang benar, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang epilepsi sebagai kutukan atau penyakit berbahaya.
Bagi siapa pun yang pernah mengalami kejang berulang, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat agar kualitas hidup tetap terjaga.
Edukasi serta empati terhadap penderita juga penting, agar mereka mendapat dukungan dan dapat menjalani kehidupan yang aman, produktif, serta berdaya layaknya individu lainnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni