Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dokter Paru Peringatkan: Vape Bukan Alternatif Aman, tapi Pintu Masuk Menuju Risiko Baru yang Mematikan

Imanda Najwa Kirana Dewi • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 02:10 WIB
Vape Bukan Jalan Keluar dari Rokok, tapi Jebakan Baru yang Mengancam Paru-Paru dan Jantung
Vape Bukan Jalan Keluar dari Rokok, tapi Jebakan Baru yang Mengancam Paru-Paru dan Jantung

RADARTUBAN – Keyakinan bahwa rokok elektrik atau vape merupakan alternatif yang lebih aman dari rokok konvensional kembali dipatahkan oleh ahli.

Dalam wawancara eksklusif bersama Rory Asyari di kanal YouTube miliknya pada 23 September 2025, Dokter Spesialis Paru Dr. Jaka Pradipta, Sp.P(K)Onk, mengungkap sederet fakta medis mengejutkan: vape bukan jalan keluar dari rokok, melainkan jalan masuk menuju risiko baru yang lebih berbahaya.

“Kalau tadinya vape dianggap solusi, sebenarnya ini masalah baru. Dari kandang macan pindah ke kandang singa,” tegas Dr. Jaka, menggambarkan betapa berbahayanya peralihan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.

Baca Juga: Aktor Jonathan Frizzy alias Ijonk Resmi Ditahan di Lapas Tangerang Terkait Kasus Likuid Vape Obat Keras

Vape, “Masalah Baru” yang Tak Kalah Mematikan

Meski sering diklaim lebih aman karena tidak mengandung tar, faktanya uap vape mengandung zat beracun seperti logam berat, formaldehida, dan bahan kimia karsinogenik.

Zat-zat ini bukan hanya menyerang paru-paru, tapi juga sistem pembuluh darah.

Menurut Dr. Jaka, penggunaan vape meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, bahkan pada pengguna usia muda.

Vape tidak hanya merusak paru, tapi juga menyerang jantung. Banyak penelitian yang menunjukkan efeknya ke pembuluh darah,” ujarnya.

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah penyalahgunaan vape untuk menghirup obat bius Etomidate di beberapa negara, termasuk yang membuat Singapura melarang vape secara total.

“Mereka kaget, karena vape disalahgunakan untuk menghirup Etomidate. Ini berbahaya sekali,” jelas Dr. Jaka.

Etomidate, yang seharusnya digunakan di ruang operasi untuk induksi anestesi, dapat menimbulkan efek halusinasi hingga “melayang”.

Dalam dosis tinggi, obat ini menyebabkan henti napas, henti jantung, dan kecanduan berat.

Karena itulah, Singapura menyebut vape sebagai “Gateway to Drugs” — pintu masuk menuju penyalahgunaan narkoba.

Popcorn Lung dan Evaly: Ancaman Nyata di Balik Asap

Bahaya lain yang mengintai pengguna vape adalah penyakit paru kronis Popcorn Lung (Bronkiolitis Obliterans).

Penyakit ini disebabkan oleh zat Diacetyl, bahan perasa yang kerap digunakan dalam liquid vape.

“Ini penyakit yang irreversible, tidak bisa sembuh total. Pasien akan terus sesak dan batuk seumur hidup,” terang Dr. Jaka.

Selain itu, ia juga menyinggung kondisi Evaly (E-cigarette or Vaping Product Use Associated Lung Injury) — cedera paru akut akibat penggunaan vape — yang kini banyak ditemukan pada usia muda.

Bahkan, orang di sekitar pengguna vape juga bisa menjadi korban. Uap yang dihasilkan mengandung nikotin dan senyawa kimia lain yang dapat memicu asma, peradangan saluran napas, bahkan berdampak pada ibu hamil dan janin.

“Ada pasien kanker paru yang bukan perokok, tapi terpapar uap vape dari pasangannya,” ungkap Dr. Jaka prihatin.

Vape Bukan Solusi, Tapi Jebakan

Dr. Jaka menegaskan bahwa vape bukan solusi untuk berhenti merokok, melainkan jebakan baru yang memperparah kecanduan nikotin.

Ia merekomendasikan dua langkah efektif bagi yang ingin berhenti merokok:

  1. Berhenti Total (Cold Turkey) – Cara paling efektif, meski membutuhkan tekad dan disiplin tinggi.
  2. Terapi Pengganti Nikotin (NRT) – Menggunakan patch atau permen nikotin sebagai alternatif aman tanpa menghirup zat berbahaya.

Vape itu bukan pintu keluar. Justru bisa menjadi pintu masuk ke masalah yang jauh lebih besar. Jangan pernah masuk ke industri nikotin itu,” tutup Dr. Jaka dengan tegas.

Di tengah maraknya tren vape yang dikemas dengan gaya hidup modern dan aroma manis, pesan Dr. Jaka menjadi peringatan keras: gaya hidup sehat bukan soal tren, tapi pilihan sadar untuk hidup lebih panjang dan berkualitas.

Sebab, di balik kepulan asap beraroma stroberi itu, bisa jadi tersembunyi ancaman gagal jantung, gangguan paru, bahkan penyalahgunaan narkoba yang menanti di tikungan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#rokok elektrik #paru-paru #zat beracun #jantung #popcorn lung #vape