RADARTUBAN - Banyak pria dan wanita menghadapi masalah kerontokan rambut yang signifikan dalam hidup mereka.
Kondisi ini kerap menimbulkan kecemasan dan mengganggu rasa percaya diri, terutama saat usia masih muda.
Sekitar 70% pria di dunia memiliki potensi mengalami kebotakan, dan 25% di antaranya mulai merasakan kerontokan parah sebelum usia 21 tahun.
Sementara itu, kerontokan pada wanita mencapai 40-50% terutama menjelang masa menopause.
Hal ini telah dibahas oleh dr. Auda Rusdin M.Biomed, dari KAI Clinic Jakarta, dalam podcast Improved Body yang tayang di kanal YouTube Rory Asyari, pada Jumat (6/6).
Faktor utama yang menyebabkan kebotakan adalah genetik dan hormonal, khususnya pada pria.
Hormon dehidrotestosteron (DHT) yang merupakan turunan dari testosteron, berperan langsung dalam menipiskan rambut hingga menyebabkan botak.
Gaya hidup dan kebiasaan tertentu juga mempercepat kerusakan akar rambut, seperti penggunaan produk seperti cat rambut dan pomade yang tidak dibersihkan dengan baik.
Penggunaan produk styling yang berlebihan juga bisa memperparah kondisinya.
"Penggunaan hair styling produk maksimal 4 jam dan jangan dibawa tidur," jelas dr. Auda.
Sedangkan pada wanita, kerontokan lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon dan faktor kesehatan lain seperti PCOS, pasca-melahirkan, dan anemia.
Perubahan hormonal ini memicu kerontokan rambut yang biasanya bisa dikendalikan dengan perbaikan gaya hidup dan perawatan medis.
"Kalau perempuan lebih multifaktorial, hormon dan gaya hidup yang dominan," tambahnya.
Pencegahan terbaik yang bisa dilakukan adalah menjaga keseimbangan hormon dan merawat rambut secara baik.
Pada pria, obat seperti finasterid dan minoksidil menjadi pilihan utama karena fungsinya memperlambat produksi DHT dan meningkatkan sirkulasi darah ke akar rambut.
Namun, harus diawasi dokter karena berisiko efek samping. Pria dengan kulit kepala berminyak juga disarankan keramas setiap hari dengan sampo lembut.
"Finasterid ini bisa menyebabkan libido menurun sementara, tapi sifatnya tidak permanen," kata dr. Auda.
Bagi yang sudah mengalami kebotakan parah, hair transplant menjadi solusi efektif.
Prosedur ini memindahkan rambut dari bagian belakang dan samping kepala, yang lebih resisten terhadap DHT, ke bagian yang botak.
Proses pertumbuhan rambut pasca-transplant melibatkan fase rontok selama 3-4 bulan, kemudian rambut baru tumbuh kembali hingga maksimal dalam 12 bulan.
Transfer rambut ini dapat membantu mengembalikan kepercayaan diri yang sempat hilang.
"Setelah hair transplant, pasien merasa percaya diri kembali karena rambutnya tumbuh sehat," ungkap dr. Auda.
Masalah kebotakan tidak hanya soal fisik, tapi juga berdampak psikologis. Banyak pasien yang merasakan penurunan rasa percaya diri bahkan depresi.
Penanganan medis dan prosedur estetika rambut kini bisa memberikan harapan baru bagi mereka.
Namun, konsultasi dengan dokter menjadi langkah awal yang sangat disarankan agar mendapatkan perawatan yang tepat dan aman.
Kombinasi gaya hidup sehat, perawatan hormon, serta teknologi medis seperti hair transplant menjadi formula utama menangani kerontokan rambut.
Dengan penanganan sejak dini dan konsultasi medis yang tepat, harapan untuk Kembali percaya diri selalu terbuka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni