Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Waspada! Rematik Kini Mengintai Usia Produktif, Bukan Cuma Penyakit Orang Tua

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Kamis, 16 Oktober 2025 | 15:15 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami sakit rematik di bagian tangannya.
Ilustrasi seseorang yang mengalami sakit rematik di bagian tangannya.

RADARTUBAN – Selama ini, banyak orang mengira penyakit rematik atau Rheumatoid Arthritis (RA) hanya menyerang lansia. Padahal, anggapan itu sudah tidak berlaku.

Penyakit autoimun ini kini justru banyak menyerang wanita usia produktif, mulai dari umur 22 hingga 55 tahun.

Hal itu diungkapkan oleh dr. Zaharuddin, M.Ked(PD), Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dalam podcast Indrajana yang tayang di kanal YouTube Klinik Utama DR. Indrajana.

Menurutnya, RA merupakan penyakit di mana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru berbalik menyerang jaringan sendi, menyebabkan peradangan kronis dan nyeri yang tak kunjung hilang.

“Rematik ini sangat penting dideteksi sedini mungkin. Kalau sendi sudah rusak, tidak bisa dikembalikan lagi,” tegas dr. Zaharuddin.

Baca Juga: Dr. Gabor Maté Ungkap: 80% Penyakit Autoimun Terjadi pada Wanita! Ini Alasannya

Gejala Khas dan Risiko Berat Jika Terlambat Ditangani

Gejala awal RA biasanya ditandai dengan nyeri dan kaku pada sendi di pagi hari selama lebih dari satu jam dan berlangsung lebih dari sepuluh minggu.

Jika dibiarkan, peradangan ini bisa menyebar ke sendi besar, menghambat aktivitas, bahkan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Meski penyebab pasti belum diketahui, faktor genetik, hormonal, dan gaya hidup disebut berperan besar.

Salah satu kebiasaan yang perlu diwaspadai adalah konsumsi kopi berlebihan, yang bisa memperparah risiko RA, terutama pada wanita.

Komplikasi Bisa Fatal, Terapi Minimal Enam Bulan

Penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Jika tak segera ditangani, RA dapat menimbulkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, gangguan jantung, paru-paru, dan mata, bahkan berujung pada kelumpuhan permanen.

Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dan dilanjutkan dengan terapi obat keras di bawah pengawasan dokter spesialis.

Terapi berlangsung setidaknya enam bulan dengan evaluasi rutin tiap tiga bulan.

“Menunda pengobatan justru jauh lebih berbahaya dibanding efek samping obat. Tanpa terapi, kualitas hidup pasien bisa turun drastis,” ujar dr. Zaharuddin menegaskan.

Pola Hidup Sehat Jadi Kunci Pencegahan

Selain pengobatan medis, dr. Zaharuddin juga menekankan pentingnya gaya hidup sehat.

Asupan nutrisi seimbang, vitamin D dari sinar matahari pagi, serta minuman seperti teh disebut dapat membantu mencegah peradangan.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan gejala awal dan segera berkonsultasi ke dokter.

“Dengan kontrol rutin dan pengobatan konsisten, risiko komplikasi bisa ditekan. Tujuannya agar pasien tetap bisa hidup aktif dan produktif,” tutupnya. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#autoimun #rheumatoid arthritis #rematik #lansia #ra