Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ketindihan dan Kesurupan: Fenomena Mistis atau Gangguan Tidur dan Psikologis?

Silva Ayu Triani • Kamis, 16 Oktober 2025 | 20:15 WIB
Ilustrasi seseorang mengalami ketindihan (sleep paralysis) saat tidur.
Ilustrasi seseorang mengalami ketindihan (sleep paralysis) saat tidur.

RADARTUBAN – Pernah merasa sadar tapi tubuh tak bisa bergerak saat tidur? Atau menyaksikan seseorang tiba-tiba berteriak dan berperilaku tak biasa seolah kehilangan kendali diri?

Dua fenomena ini — ketindihan (sleep paralysis) dan kesurupan — kerap dikaitkan dengan hal mistis, padahal sains punya penjelasan logis di baliknya.

Dalam podcast Ruang Tunggu yang tayang di YouTube, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, spesialis kejiwaan, mengurai penjelasan ilmiah dari dua fenomena yang sering disalahartikan ini.

Ketindihan, Otak Sudah Bangun Tubuh Masih Tidur

Menurut dr. Andreas, ketindihan terjadi ketika seseorang sudah sadar, tetapi tubuh masih “terkunci” dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement).

Fase ini membuat otot-otot tubuh tidak bisa bergerak agar tidak menirukan mimpi.

Baca Juga: Tanam Padi Maju, Wapres Gibran Dibanjiri Kritikan karena Banyak Padi Ketindihan

Namun pada kondisi tertentu, otak terbangun lebih dulu, sementara tubuh belum — inilah yang memunculkan sensasi lumpuh sementara.

“Pada saat itu, otak kita sudah bangun, tapi tubuh masih dalam kondisi tidur yang terkunci, sehingga tidak bisa digerakkan,” jelasnya.

Kondisi ini sering disertai halusinasi visual atau suara, seperti merasa ada bayangan menekan dada, yang membuat penderita panik dan mengaitkannya dengan makhluk halus.

Baca Juga: Mengenal Sleep Tourism: Tren Liburan Baru untuk Tidur Nyenyak dan Sehat

Kesurupan, Respons Otak terhadap Tekanan Emosi

Berbeda dengan ketindihan, kesurupan adalah bentuk perubahan kesadaran akibat tekanan emosional atau stres berat.

Seseorang yang kesurupan bisa bertingkah laku sangat berbeda dari biasanya karena bagian otak yang mengatur logika dan kesadaran menurun, sementara area emosi justru sangat aktif.

“Kesurupan merupakan fenomena perubahan kepribadian sementara. Orang bisa berbicara atau bertindak di luar kendalinya,” terang dr. Andreas.

Fenomena kesurupan massal, misalnya di sekolah atau pabrik, umumnya muncul di lingkungan dengan tekanan tinggi dan tingkat sugesti kuat.

Rasa takut dapat menular secara sosial, membuat lebih banyak orang ikut terpengaruh.

“Semakin banyak yang mengalami, semakin mudah orang lain ikut terbawa,” tambahnya.

Kunci Mengatasi: Tenangkan Pikiran dan Perbaiki Pola Tidur

Dr. Andreas menekankan bahwa ketindihan dan kesurupan bukanlah hal mistis, melainkan reaksi alami dari tubuh dan otak terhadap stres dan gangguan tidur.

Keduanya bisa diatasi dengan manajemen stres, pola tidur teratur, doa atau latihan grounding, serta pemahaman yang benar tentang fungsi tubuh.

“Semakin kita paham, semakin kecil kemungkinan kita panik atau menambah ketakutan,” ujarnya.

Dengan pendekatan medis dan psikologis yang tepat, masyarakat diharapkan tak lagi terjebak pada tafsir mistis semata.

Karena di balik kisah menyeramkan itu, otak dan tubuh kita sendiri sebenarnya sedang berusaha memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. (*)

 

 
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#otak #ketindihan #Sleep Paralysis #rapid eye movement #rem #kesurupan #tidur