RADARTUBAN – Seiring meningkatnya kasus obesitas dan penyakit metabolik seperti diabetes, banyak orang mencari solusi penurunan berat badan yang efektif.
Bedah bariatrik, khususnya teknik potong lambung (sleeve gastrectomy), kini menjadi pilihan medis yang semakin populer.
Prosedur ini memberikan harapan baru bagi pasien obesitas parah dengan risiko tinggi, memungkinkan penurunan berat badan drastis demi peningkatan kesehatan dan perubahan pola hidup jangka panjang.
Operasi ini dilakukan di rumah sakit dengan persiapan matang dan pengawasan dokter ahli.
Informasi ini diperoleh dari penjelasan Dr. Peter Ian Limas, Sp.B-KBD, seorang dokter spesialis bedah digestif yang berfokus pada bedah bariatrik dalam podcast Better Everyday yang tayang di kanal YouTube Sportigo Official pada Kamis (4/9).
Teknik operasi paling banyak dilakukan adalah sleeve gastrectomy, yaitu pemotongan sekitar 85% bagian lambung sehingga bentuk lambung menjadi kecil menyerupai lengan baju.
Cara ini mengurangi kapasitas lambung sehingga pasien cepat kenyang hanya dengan porsi sedikit makanan.
Menurut dokter Peter, "Lambungnya dibuat seperti tabung panjang, jadi rasa laparnya berkurang drastis."
Selain itu, ada juga teknik bypass usus, yang memotong sebagian usus halus sehingga penyerapan kalori berkurang.
Teknik ini khusus dipilih bagi pasien obesitas berat dengan diabetes sulit dikendalikan.
Bedah ini sudah berkembang menggunakan metode laparoskopi, dengan luka operasi yang kecil dan pemulihan lebih cepat.
Dokter Peter menekankan bedah bariatrik bukan jalan pintas tanpa perubahan gaya hidup.
"Operasi itu bukan seperti bisul yang pecah lalu sembuh langsung, tapi butuh perubahan pola makan dan gaya hidup yang serius agar hasilnya bertahan lama."
Pasien harus siap mental dan fokus disiplin dalam mengatur nutrisi serta berolahraga setelah operasi.
Protein menjadi asupan penting pascaoperasi untuk mempercepat pemulihan jaringan tubuh.
Kondisi metabolisme pasien pun berubah positif, termasuk pengurangan resistensi insulin yang membantu mengontrol diabetes.
Operasi ini memiliki indikasi khusus, terutama bagi yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) tinggi yang berisiko diabetes dan penyakit jantung.
Di Indonesia, batas BMI disesuaikan lebih rendah karena faktor genetik dan prevalensi diabetes yang tinggi di Asia.
"Orang Asia itu lebih gampang kena diabetes, jadi biasanya operasi bariatrik dilakukan mulai dari BMI 32,5," ujar dokter Peter.
Bedah bariatrik tidak hanya memberi dampak pada penurunan berat badan, tetapi juga sekaligus meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan pasien secara keseluruhan.
Namun, proses ini adalah perjalanan panjang yang butuh komitmen serta dukungan medis berkelanjutan agar sukses. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni