RADARTUBAN - Di tengah kepopuleran metode menenangkan bayi dengan dot atau kebiasaan hisap jempol, para ahli kesehatan gigi melayangkan peringatan keras mengenai konsekuensi jangka panjang dari praktik tersebut.
Peringatan ini disampaikan oleh drg. Prawira Setiadarma dalam podcast Indrajana di kanal YouTube Klinik Utama DR. Indrajana (2/1), dengan fokus membahas kebiasaan menenangkan anak tersebut dapat merusak struktur rahang.
Inti permasalahannya adalah bahwa tekanan mekanis yang diakibatkan oleh dot atau jempol secara terus-menerus mendorong gigi seri bagian depan ke luar, pada saat tulang rahang anak masih dalam fase pertumbuhan dan belum mengeras sempurna.
Hasilnya adalah kondisi serius yang dikenal sebagai gigi tonggos atau maloklusi (gigi tidak sejajar), yang membutuhkan intervensi medis kompleks di masa depan.
Fenomena gigi tonggos, yang sering digambarkan sebagai penampilan "gigi kelinci," bukanlah sekadar kelainan kosmetik.
Ini adalah hasil dari pergeseran posisi gigi dan ketidakseimbangan perkembangan rahang. Terdapat dua faktor utama yang menjadi pemicu kondisi ini:
1. Faktor Kebiasaan (Habit)
Ketika anak mengisap dot atau jempol, gigi seri depan terus-menerus mendapat dorongan ke arah luar.
Karena struktur tulang pada usia dini masih lentur, dorongan yang terjadi berulang-ulang akan mengubah formasi tulang rahang secara perlahan.
Kebiasaan ini, yang menciptakan comfort zone atau rasa tenang bagi anak.
Sayangnya merupakan kebiasaan buruk yang secara langsung memengaruhi pertumbuhan gigi permanen.
2. Faktor Keturunan (Genetika)
Beberapa kasus gigi tonggos memang bersifat bawaan.
Hal ini terjadi karena bentuk tulang rahang atas yang memang sudah terbentuk menonjol sejak lahir.
Namun, perlu dicatat bahwa faktor kebiasaan buruk dapat memperparah kondisi yang sudah ada secara genetik.
Banyak orang tua sering menunda penghentian kebiasaan ngedot atau hisap jempol, beralasan menunggu anak mencapai usia tertentu.
Namun, pakar kesehatan gigi sepakat, tidak ada batasan usia yang aman atau ideal untuk menghentikan kebiasaan ini.
“Jadi pas waktu kecil, bisa sekitar umur satu atau dua tahun kalau sudah mulai hisap jempol secepatnya di stop, nanti kebiasaan,” jelas drg. Prawira.
Penundaan hanya akan memperkuat kebiasaan buruk tersebut, menjadikannya semakin sulit dilepas.
Bahkan, ditemukan kasus ekstrem di mana anak masih mempertahankan kebiasaan ini hingga memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan psikologis anak terhadap comfort zone tersebut.
Menghentikan kebiasaan yang sudah menjadi zona nyaman anak adalah tantangan besar bagi orang tua.
Namun, kunci suksesnya terletak pada konsistensi dan strategi pengalihan yang cerdas.
Langkah taktis yang dapat diterapkan oleh orang tua, seperti pengalihan perhatian (distraksi) dengan ganti fokus anak dari keinginan menghisap dan mencari tahu sumber ketenangan anak. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama