RADARTUBAN – Laporan terbaru dari Atlas Diabetes International Diabetes Federation (IDF) edisi ke-11 mengungkapkan fakta mengejutkan.
Hampir 1 dari setiap 9 orang dewasa berusia 20–79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2024 — setara dengan 589 juta orang.
Angka ini diprediksi akan terus meningkat, dan pada tahun 2025 jumlahnya diperkirakan mencapai 853 juta orang.
Indonesia Tempati Peringkat ke-5 Dunia
Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di posisi kelima sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia.
Sekitar 19,5 juta penduduk dewasa Indonesia diketahui mengidap diabetes.
Berikut daftar lima negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia:
- Cina – 140,9 juta orang
- India – 74,2 juta orang
- Pakistan – 33 juta orang
- Amerika Serikat – 32,2 juta orang
- Indonesia – 19,5 juta orang
Lebih memprihatinkan lagi, lebih dari 40% penderita diabetes di dunia (sekitar 252 juta orang) bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini.
Sementara itu, pengeluaran global terkait penanganan diabetes pada tahun 2024 mencapai US$ 1 triliun, meningkat 338% dalam 17 tahun terakhir.
Baca Juga: Bahaya Duduk Terlalu Lama, Alodokter Ingatkan Bisa Picu Diabetes hingga Gangguan Jantung
Makanan Manis dan Gaya Hidup Tak Sehat Jadi Penyebab
Menurut Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), peningkatan kasus diabetes dan penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia berkaitan erat dengan pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).
Dalam 15 tahun terakhir, angka obesitas di Indonesia naik dua kali lipat — dari 10,5% pada 2007 menjadi 23,4% pada 2023, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
Salah satu faktor utama penyebabnya adalah kebiasaan minum minuman manis dalam kemasan (MBDK).
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 menunjukkan, dua dari tiga orang Indonesia mengonsumsi setidaknya satu MBDK setiap hari.
Risiko Penyakit Kronis Akibat Minuman Manis
Dalam laporannya, CISDI menjelaskan bahwa konsumsi 250 ml minuman manis per hari dapat meningkatkan risiko:
- Diabetes tipe 2 sebesar 27%
- Obesitas sebesar 12%
- Penyakit jantung sebesar 13%
- Kematian dini sebesar 10%
Kebiasaan ini bukan hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga membebani keuangan negara.
Beban BPJS Kesehatan Terus Meningkat
BPJS Kesehatan mencatat, biaya untuk penyakit katastropik seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi meningkat drastis dalam lima tahun terakhir — dari Rp19 triliun pada 2019 menjadi Rp32 triliun pada 2023, naik lebih dari 43%.
Dorongan Kebijakan Pengendalian Konsumsi Gula
Melihat tren ini, CISDI mendorong pemerintah untuk segera:
- Menerapkan pelabelan gizi di bagian depan kemasan produk
- Memberlakukan pajak terhadap makanan dan minuman tidak sehat
Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mengendalikan konsumsi GGL dan menekan pertumbuhan penyakit tidak menular di Indonesia.
CISDI menegaskan, jika tidak ada intervensi serius, angka diabetes di Indonesia akan terus meningkat karena mudahnya akses terhadap makanan tidak sehat.
Langkah ini juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, di mana pemerintah menargetkan penurunan laju obesitas dan penyakit kronis di masyarakat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni