Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Meluruskan Stigma OCD: Bukan Sekadar Suka Bersih dan Rapi, Ini Fakta yang Jarang Diketahui

Silva Ayu Triani • Selasa, 28 Oktober 2025 | 18:35 WIB
Ilustrasi pria menunjukkan kemarahan dan kecemasan karena gangguan tatanan objek.
Ilustrasi pria menunjukkan kemarahan dan kecemasan karena gangguan tatanan objek.

RADARTUBAN – Istilah Obsessive Compulsive Disorder (OCD) sering disalahartikan di masyarakat.

Banyak orang dengan mudah menyebut dirinya “OCD” hanya karena menyukai kerapian atau kebersihan.

Padahal, menurut para ahli, OCD adalah gangguan kejiwaan serius yang melibatkan penderitaan mendalam, bukan sekadar kebiasaan menjaga kebersihan.

Penjelasan ini disampaikan oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, seorang psikiater, dalam podcast Ruang Tunggu yang tayang di kanal YouTube Ruang Tunggu.

Baca Juga: Dari Trauma Masa Kecil hingga Gangguan Mental, dr. Yuliana Beberkan Hipnoterapi Bisa Jadi Solusi Efektif

Bukan Soal Bersih, tapi Soal Penderitaan

OCD ditandai oleh dua komponen utama: obsesi (pikiran berulang yang mengganggu) dan kompulsi (tindakan berulang untuk meredakan kecemasan akibat obsesi).

“Sayangnya, pada pikiran obsesif ini, bukan cuma pikiran yang berlebihan tapi dia enggak bisa merasakan puas,” jelas dr. Andreas.

Misalnya, seseorang yang mencuci tangan berulang kali bukan karena ingin bersih, melainkan karena dihantui kecemasan bahwa tangannya masih kotor.

Alih-alih lega, tindakan itu justru memperkuat rasa cemas dan membuatnya terus mengulang perilaku yang sama.

Siklus Tak Berujung dan Dampak Nyata

Siklus obsesif-kompulsif membuat penderita terjebak dalam lingkaran kecemasan tanpa akhir.

Perilaku kompulsif yang dilakukan terus-menerus dapat menghabiskan waktu, merusak fisik, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penderita OCD sadar perilaku mereka tidak masuk akal, namun tidak mampu mengendalikannya. Inilah yang membedakan OCD dari sekadar perfeksionisme.

Tidak Selalu Tentang Kebersihan

Selain terkait kebersihan, OCD bisa muncul dalam bentuk lain seperti ritual berulang, ketakutan ekstrem, hingga pikiran magis (magical thinking).

Dr. Andreas mencontohkan pasien dengan obsesi keagamaan ekstrem (religious scrupulosity) — seperti berdoa berulang kali karena takut salah.

“Ada pasienku yang sebelum tidur harus berdoa di empat titik tempat tidurnya dan diulang tujuh kali. Kalau ada yang salah, dia merasa harus ngulang lagi,” ujarnya.

Ada pula bentuk OCD berupa obsesi pengecekan ekstrem (misalnya memeriksa 47 barang sebelum bepergian) atau pikiran obsesif murni, seperti rasa takut tanpa dasar akan menyakiti orang lain.

Baca Juga: GRR Goes to School: Psikolog Ingatkan Remaja Rentan Alami Gangguan Mental di Fase Storm

Pengobatan dan Harapan untuk Sembuh

OCD bukan kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Penanganan biasanya melibatkan kombinasi antara pengobatan dan terapi psikologis.

Obat-obatan diberikan untuk menyeimbangkan kadar serotonin di otak, sementara terapi seperti Exposure and Response Prevention (ERP) membantu pasien menghadapi dan menahan dorongan kompulsif secara bertahap.

Dengan penanganan yang tepat, banyak pasien berhasil pulih dan kembali produktif.

Saatnya Hentikan Stigma

dr. Andreas menegaskan pentingnya edukasi masyarakat untuk memahami bahwa OCD adalah gangguan medis yang nyata, bukan kepribadian unik atau kebiasaan lucu.

Stigma sosial sering membuat penderita enggan mencari bantuan, padahal dukungan dari keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap pemulihan.

Memahami OCD dengan benar berarti membuka ruang empati, bukan penghakiman.

Rumah dan lingkungan sosial seharusnya menjadi tempat aman bagi penyintas gangguan mental, bukan sumber tekanan baru. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ocd #gangguan mental #obsesi #kecemasan #perfeksionis #obsessive compulsive disorder