RADARTUBAN - Pada musim hujan, banyak orang merasa bahwa kebutuhan minum akan menurun, padahal kondisi dehidrasi saat musim hujan tetap bisa terjadi.
Tubuh tetap kehilangan cairan melalui berbagai mekanisme meski cuaca lebih sejuk dan lembap.
Sehingga, menjaga hidrasi tubuh tetap penting meskipun hujan terus mengguyur.
Cuaca lembap bukan jaminan bebas dehidrasi
Saat musim hujan, udara yang lembap dan suhu yang cenderung turun sering membuat seseorang kurang merasakan haus.
Namun studi dari rumah sakit menunjukkan bahwa meski “tidak merasa haus”, tubuh bisa tetap kehilangan cairan akibat keringat tersembunyi, napas yang lembap, dan aktivitas sehari-hari yang tetap mengeluarkan cairan.
Misalnya, blog kesehatan menyebut bahwa “Banyak orang percaya bahwa karena cuaca lebih sejuk dan lembap saat musim hujan, kebutuhan tubuh mereka akan cairan menjadi berkurang. Padahal, anggapan itu tidak benar.”
Artinya, anggapan bahwa cuaca hujan membuat kita aman dari dehidrasi adalah keliru.
Tanda-tanda “gejala dehidrasi” yang harus diwaspadai
Gejala-gejala dehidrasi bisa muncul bahkan ketika kita berpikir “ah, udah hujan, jadi aman”.
Beberapa tanda seperti mulut kering, warna urin yang gelap, lemas, atau sulit konsentrasi bisa menjadi alarm.
Artikel luar negeri mengingatkan bahwa haus saja bukan indikator yang andal karena seringkali tubuh sudah kekurangan cairan ketika mulai terasa haus.
Jadi, ketika Anda berada di musim hujan, tetapi masih merasa letih, sering mengantuk, ataupun lupa minum, itu bisa jadi sinyal dehidrasi.
Kenapa tubuh tetap kehilangan cairan di musim hujan
Beberapa faktor berikut menjelaskan mengapa dehidrasi saat musim hujan tetap mungkin terjadi:
• Meski suhu lebih rendah, aktivitas tubuh (kerja, rumah tangga, olahraga ringan) tetap mengeluarkan keringat dan napas yang membawa air keluar.
• Udara lembap bisa membuat kita berkeringat lebih banyak tanpa terasa, atau napas kita menguapkan cairan lebih banyak dari yang kita sadari.
• Karena merasa tidak haus, kita minum jauh lebih sedikit dari kebutuhan.
• Minuman hangat seperti kopi dan teh yang sering dikonsumsi ketika hujan bisa bersifat diuretik (meningkatkan frekuensi buang air kecil), sehingga berpotensi mempercepat kehilangan cairan.
Cara menjaga hidrasi tubuh selama musim hujan
Untuk mencegah dehidrasi saat musim hujan, berikut beberapa langkah praktis:
• Buat kebiasaan minum air putih secara rutin meskipun belum merasa haus.
• Tambahkan makanan atau buah-buahan tinggi kandungan air seperti semangka, jeruk, atau timun untuk membantu hidrasi tubuh.
• Batasi konsumsi minuman berkafein atau beralkohol, karena bisa meningkatkan kehilangan cairan.
• Monitor warna urin Anda: sebaiknya berwarna kuning muda, bukan gelap. Jika gelap, bisa jadi tanda dehidrasi.
• Jika aktif secara fisik (meskipun di dalam ruangan), tetap selalu ada botol air di dekat Anda untuk memastikan kebutuhan cairan terpenuhi.
Jadi, jangan lengah hanya karena hujan telah turun dan udara menjadi lebih sejuk.
Dehidrasi saat musim hujan adalah kondisi nyata yang bisa terjadi bahkan bagi orang yang merasa “aman” karena cuaca.
Dengan menyadari bahwa musim hujan bukan tanda bebasnya kita dari risiko kehilangan cairan dan dengan menerapkan langkah-langkah untuk menjaga hidrasi tubuh, Anda akan tetap sehat dan prima menjalani aktivitas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni