RADARTUBAN - Masalah di telinga bukan perut saat mabuk perjalanan sering kali menjadi fakta yang kagetkan banyak orang.
Saat seseorang mengalami mabuk perjalanan, penyebab utama bukanlah gangguan lambung atau pencernaan, melainkan gangguan pada sistem keseimbangan di bagian telinga dalam—atau dikenal dengan sistem vestibular.
Kondisi ini muncul karena terjadi ketidaksesuaian antara sinyal gerak yang diterima telinga, mata, dan tubuh secara keseluruhan.
Mengapa sistem vestibular sangat berperan
Berbagai studi menunjukkan bahwa sistem vestibular memiliki peran sentral dalam kejadian mabuk perjalanan.
Misalnya, penelitian menyatakan bahwa orang yang tanpa fungsi labirin vestibular (bagian telinga dalam) hampir tidak mengalami motion sickness.
Lebih jauh, teori sensory conflict theory menjelaskan bahwa mabuk terjadi ketika informasi dari sistem vestibular, sistem visual (mata) dan sistem propriosepsi (posisi tubuh) saling bertentangan.
Dalam konteks “masalah di telinga bukan perut saat mabuk perjalanan”, bukti menunjukkan bahwa lambung hanyalah ikut bereaksi terhadap sinyal yang berasal dari telinga dan otak.
Baca Juga: Praktisi Hukum: Membebaskan Terdakwa karena Pertimbangan Mabuk Jarang Terjadi
Kenapa sering dikira lambung yang bermasalah
Meski akar permasalahannya ada di telinga, efeknya memang terasa di perut: muncul rasa mual, ingin muntah, perut terasa penuh atau “berguncang”.
Hal ini dikarenakan reaksi tubuh terhadap sinyal kesalahan keseimbangan yang diterima otak melalui sistem vestibular.
Dengan kata lain, mabuk perjalanan bukan karena asam lambung pertama-tama, melainkan karena “kebingungan sensorik” yang kemudian memicu reaksi lambung dan pencernaan.
Penelitian menyebut bahwa sistem vestibular ketika mengalami konflik sinyal dapat memicu gejala seperti mual, muntah, kelelahan dan pusing.
Cara pencegahan: fokus ke telinga dan sinyal visual
Karena inti masalahnya adalah sistem keseimbangan di telinga dan sinyal yang diterima otak, maka strategi pencegahan mabuk perjalanan juga harus diarahkan ke sana. Beberapa langkah yang terbukti membantu:
• Duduk di posisi yang memungkinkan penglihatan ke horizon atau pandangan jauh (membantu sistem visual dan vestibular selaras). Studi menyebut “synchronize the visual system with the motion” sebagai taktik efektif.
• Hindari membaca atau melihat layar dalam kendaraan bergerak terlalu sering, karena mata “menangkap” diam padahal tubuh bergerak → konflik sensorik meningkat.
• Usahakan tubuh dan kepala dalam posisi yang stabil, minimalkan gerakan kepala yang berlebihan ketika kendaraan belok atau bergoyang.
• Pastikan istirahat cukup, tubuh tidak stres, dan kondisi tubuh dalam keadaan siap sebelum perjalanan panjang.
Dengan memahami bahwa akar dari mabuk perjalanan adalah masalah di telinga bukan perut saat mabuk perjalanan, maka kita bisa lebih tepat dalam melakukan pencegahan — tidak hanya minum obat lambung atau makan ringan saja, tapi menata sinyal keseimbangan tubuh agar tidak “bingung”.
Dengan cukup jelas bahwa “masalah di telinga bukan perut saat mabuk perjalanan”, kita bisa mengganti mindset bahwa pencegahan harus lebih ke menjaga sistem keseimbangan dan sinyal sensorik tubuh.
Mengingat bahwa sistem vestibular sangat berperan dalam kejadian mabuk perjalanan, maka langkah-langkah praktis dan edukatif bisa menurunkan frekuensi dan tingkat keparahan gejala.
Ini penting bagi semua kalangan yang sering melakukan perjalanan — dari anak-anak hingga dewasa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni