Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Smartphone dan Anak: Ancaman Tersembunyi bagi Otak, Emosi, dan Masa Depan

Alifah Nurlias Tanti • Minggu, 16 November 2025 | 13:35 WIB
Ilustrasi Seseorang Anak dibawah Umur yang Bermain Gadget
Ilustrasi Seseorang Anak dibawah Umur yang Bermain Gadget

RADARTUBAN — Memberikan smartphone kepada anak tanpa arahan ibarat menyerahkan kunci mobil kepada orang yang belum pernah belajar mengemudi.

Sekilas tampak sepele, tapi risiko yang tersembunyi bisa sangat besar mengganggu perkembangan otak.

Banyak orang tua melihat gawai sebagai alat belajar sekaligus hiburan bagi anak.

Namun, di balik layar kecil yang tampak aman itu, tersimpan risiko besar yang sering luput dari perhatian.

Anak-anak di bawah usia 12 tahun masih belajar mengenali dan mengendalikan dorongan serta emosi mereka.

Sayangnya, dunia digital tidak diciptakan untuk mendukung tumbuh kembang, melainkan untuk membuat penggunanya terus mengonsumsi dan bergantung.

Kalau Anda berpikir anak harus punya smartphone supaya tidak ketinggalan zaman, coba renungkan lagi.

Teknologi sebenarnya bukanlah musuh, tapi ketika anak belum siap secara emosional, justru di situlah jebakan yang berbahaya.

Sebuah panduan ilmiah untuk membantu orang tua melindungi anak dari dampak buruk dunia digital, dibagikan melalui kanal YouTube Parenting Hacks pada Kamis (13/11).

1. Otak Anak Belum Siap Menghadapi Dunia Digital

Anak-anak di bawah usia 12 tahun masih memiliki prefrontal cortex yang belum matang sepenuhnya.

Bagian otak ini berperan penting dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri, sehingga wajar jika mereka belum mampu sepenuhnya mengatur dorongan maupun emosi.

2. Hal yang Smartphone Ambil dari Anak Tanpa Disadari Orang Tua

Smartphone tampak seperti alat kecil yang tidak berbahaya, padahal ia bisa mencuri lima hal berharga dari anak Anda: fokus, imajinasi, pengendalian emosi, kualitas tidur, dan harga diri.

3. Kebutuhan Nyata Anak Sebelum Memegang Smartphone

Sering kali orang tua merasa, ‘Anak saya pintar, pasti sudah siap punya smartphone.’ Padahal, kepintaran intelektual tidak otomatis sejalan dengan kematangan emosional.

Anak mungkin cepat memahami cara kerja teknologi, tetapi belum tentu mampu mengendalikan dampak yang muncul terhadap diri mereka.

4. Strategi Ilmiah Membentuk Anak Cerdas Tanpa Tergantung Gawai

Sebelum memberikan anak smartphone, ada baiknya mulai dengan mengenalkan literasi digital tanpa internet.

Ajari mereka tentang arti penting privasi, bagaimana berkomunikasi dengan etika, dan kebiasaan untuk selalu berpikir sebelum bertindak di dunia maya.

5. Sukses Tanpa Gawai: Paradigma Baru Pendidikan Anak

Banyak orang tua beranggapan bahwa anak harus akrab dengan teknologi sejak dini agar siap menghadapi masa depan.

Namun, yang jauh lebih penting bukanlah seberapa cepat mereka mengenal gawai, melainkan seberapa matang karakter dan kecerdasan emosional yang mereka miliki. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#fokus #karakter anak #perkembangan otak #smartphone #emosi