RADARTUBAN - Belakangan ini, istilah “remaja jompo” jadi candaan yang nggak pernah absen di linimasa.
Setiap kali ada anak muda baru naik tangga satu lantai lalu ngos-ngosan, atau lutut bunyi krek-krek waktu jongkok, langsung bilang,
“Waduh, remaja jompo nih bos!” Seolah-olah, punya badan rentan di usia muda itu sesuatu yang lucu dan layak dirayakan.
Padahal, kalau dipikir pakai logika yang sedikit waras, itu tanda alarm tubuh lagi bunyi keras-keras, bukan pencapaian.
Tubuh sakit-sakitan di umur 20-an harusnya bukan kebanggaan.
Itu warning keras bahwa gaya hidup kita mungkin amburadul: kurang gerak, kurang tidur, kebanyakan rebahan, makan sembarangan, atau hidup terlalu lama mengandalkan kopi dan cimol sebagai sumber energi.
Tapi entah kenapa, kita memilih menertawakan hal itu, bukannya memperbaikinya.
Generasi yang Kuat Scroll, tapi Lemah Berdiri Lama
Fenomena remaja jompo ini terasa nyata: anak muda tahan rebahan 6 jam nonton serial, tapi berdiri 10 menit di bus kota langsung nyari pegangan sambil gemetar.
Tahan begadang semalaman main game, tapi disuruh lari 100 meter saja rasanya mau meninggal.
Kita sekuat tenaga menjaga password Wi-Fi, tapi tidak menjaga kebugaran tubuh sendiri.
Ironisnya, banyak yang bangga dengan kondisi itu.
Bangga sakit punggung di umur 22, bangga sudah punya asam urat dan kolesterol umur 25, bangga minum obat rutin kayak orang 50 tahun.
Kita menyebut diri sendiri “jompo” sebagai pembenaran, bukan sebagai peringatan.
Seakan-akan itu identitas keren dan estetika hidup modern: lelah, rapuh, tapi nggak mau berubah.
Olahraga Itu Bukan Cuma Buat Atlet
Banyak anak muda merasa olahraga itu ribet, harus ke gym, harus punya sepatu mahal, atau harus ikut kelas yoga. Padahal olahraga bisa sesederhana:
• Jalan kaki 30 menit setiap hari.
• Lari kecil di sekitar rumah.
• Senam ringan atau push-up di kamar.
• Main badminton sama teman.
Intinya, tubuh harus digerakkan. Tidak perlu muluk-muluk, yang penting konsisten.
Dampak Positif Olahraga
• Energi meningkat: Tidak lagi ngos-ngosan naik tangga.
• Mental lebih sehat: Olahraga membantu mengurangi stres dan kecemasan.
• Tidur lebih nyenyak: Tubuh yang aktif lebih mudah istirahat.
• Percaya diri naik: Merasa lebih segar dan kuat bikin hidup lebih optimis.
Olahraga bukan hanya soal fisik, tapi juga soal mental dan kualitas hidup.
Menjadi remaja jompo bukan sesuatu yang keren. Itu tanda bahwa kita harus segera berubah.
Anak muda seharusnya penuh energi, bukan cepat lelah.
Jadi, jangan bangga kalau umur 20-an sudah sering bilang “aduh encok” atau “ngos-ngosan dikit langsung capek.”
Mulailah olahraga, sekecil apa pun bentuknya. Karena tubuh sehat adalah modal utama untuk menghadapi masa depan.
Sekali lagi, remaja jompo bukan prestasi. Olahraga adalah solusi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama