Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Benarkah Makanan Pedas Bisa Turunkan Demam? Begini Fakta Medis dan Mitosnya

Bihan Mokodompit • Jumat, 28 November 2025 | 22:10 WIB
Ilustrasi makanan pedas
Ilustrasi makanan pedas

RADARTUBAN - Banyak orang masih bertanya-tanya apakah benar makanan pedas turunkan demam, terutama karena ada anggapan bahwa sensasi panas dari cabai dapat membantu menurunkan suhu tubuh.

Dalam praktiknya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Pada paragraf pertama ini, topik mengenai makanan pedas turunkan demam menjadi fokus utama agar pembahasan lebih terarah dan mudah dipahami pembaca.

Apakah Makanan Pedas Bisa Menurunkan Demam?

Secara medis, konsep makanan pedas turunkan demam tidak didukung bukti ilmiah. Demam merupakan tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi.

Karena itu, makanan pedas tidak memiliki kemampuan biologis untuk mengatasi penyebab demam secara langsung.

Meskipun begitu, konsumsi makanan pedas dapat memberikan sensasi tertentu, seperti munculnya keringat, yang sering disalahartikan sebagai proses penurunan panas.

Beberapa orang memang merasa lebih baik setelah menyantap makanan pedas, tetapi sensasi tersebut hanya bersifat sementara.

Secara medis, penurun panas tetap harus mengandalkan obat penurun demam seperti parasetamol atau ibuprofen sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Baca Juga: Mitos Makanan Pedas Runtuh! dr. Christian Sumilat, Sp.B Ungkap Penyakit Gaya Hidup sebagai Pemicu Utama Wasir

Efek Capsaicin pada Tubuh Ketika Demam

Di dalam cabai terdapat senyawa bernama capsaicin. Senyawa ini bisa memicu keluarnya lendir dari hidung, sehingga membuat pernapasan terasa lebih lega.

Efek itulah yang terkadang membuat mitos makanan pedas turunkan demam semakin berkembang. Namun, penting digarisbawahi bahwa capsaicin tidak bekerja sebagai penurun demam.

Selain itu, capsaicin dapat merangsang tubuh untuk berkeringat. Keringat kemudian memberi kesan bahwa tubuh mulai “mendingin”, meskipun secara medis suhu inti tubuh belum tentu menurun.

Karena itu, penanganan demam tetap sebaiknya dilakukan menggunakan langkah yang terbukti klinis, bukan mengandalkan makanan pedas semata.

Kapan Makanan Pedas Justru Perlu Dihindari?

Meski banyak yang percaya pada anggapan makanan pedas turunkan demam, ada kondisi tertentu ketika makanan pedas justru memperburuk keadaan.

Apabila penderita demam mengalami diare, sakit perut, atau asam lambung meningkat, mengonsumsi cabai dapat memperparah keluhan.

Dalam situasi seperti itu, pasien sebaiknya memilih makanan yang lembut, mudah dicerna, dan tidak mengiritasi sistem pencernaan.

Selain itu, penggunaan obat penurun demam tetap yang paling direkomendasikan, sambil memastikan kebutuhan cairan terpenuhi.

Langkah ini lebih sesuai dengan rekomendasi medis internasional dan jauh lebih aman dibanding hanya mengandalkan capsaicin dari makanan pedas.

Mana yang Lebih Tepat?

Berdasarkan penjelasan medis dan rujukan kesehatan internasional, klaim bahwa makanan pedas turunkan demam dikategorikan sebagai mitos.

Meski makanan pedas bisa memberikan rasa lega pada hidung tersumbat, fungsi tersebut tidak sama dengan menurunkan suhu tubuh.

Senyawa capsaicin memang memberikan reaksi hangat dan membuat tubuh berkeringat, tetapi tidak bisa menggantikan peran obat penurun demam.

Dengan demikian, saat demam muncul, langkah terbaik adalah beristirahat, menjaga hidrasi, dan menggunakan obat yang direkomendasikan tenaga medis.

Mengonsumsi makanan pedas tidak dilarang, tetapi sebaiknya mempertimbangkan kondisi pencernaan dan toleransi masing-masing. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#capsaicin #suhu tubuh #makanan pedas #obat penurun demam #deman