Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dokter Ungkap Risiko Hipertensi Paru Akibat Mendaki Gunung di Dataran Tinggi

Ika Nur Jannah • Senin, 1 Desember 2025 | 20:34 WIB
Ilustrasi mendaki gunung.
Ilustrasi mendaki gunung.

RADARTUBAN - Mendaki gunung yang banyak digemari sebagai olahraga dan aktivitas rekreasi ternyata dapat memicu hipertensi paru pada kelompok rentan.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP menyampaikan bahwa aktivitas di ketinggian dengan kadar oksigen rendah dapat meningkatkan tekanan darah pada pembuluh paru.

Sehingga memaksa jantung kanan bekerja lebih keras dan memicu hipertensi paru, terutama pada individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Penjelasan Hipertensi Paru Akibat Mendaki Gunung

Hipertensi paru adalah kondisi meningkatnya tekanan darah pada arteri di paru-paru yang membuat jantung bagian kanan harus bekerja lebih keras memompa darah.

Saat mendaki gunung, terutama di dataran tinggi, kadar oksigen di udara menurun.

Kondisi ini bisa menyebabkan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah paru yang berkontribusi pada peningkatan tekanan hidrostatis di paru-paru.

Akibatnya, jantung kanan mengalami beban lebih berat dan dapat memicu hipertensi paru pada mereka yang rentan.

Kelompok Rentan Terhadap Hipertensi Paru

Menurut dr. Hary, tidak semua orang yang melakukan pendakian akan mengalami penyakit paru-paru.

Kelompok yang lebih berisiko antara lain:

- Penderita penyakit jantung bawaan

- Pasien dengan penyakit autoimun seperti lupus

- Mereka yang memiliki gangguan paru seperti tuberkulosis (TBC) dan asma

- Ibu hamil

Orang dalam kelompok ini lebih rentan mengalami komplikasi karena tubuh mereka memiliki keterbatasan dalam menyesuaikan diri dengan kondisi oksigen rendah di ketinggian.

Gejala hipertensi paru yang mungkin muncul setelah melakukan aktivitas ringan di dataran tinggi meliputi sesak napas, kelelahan, serta pembengkakan pada tubuh.

Bila gejala ini dirasakan menjelang gunung, langkah penting yang harus dilakukan adalah segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung atau paru.

Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah kondisi memburuk dan mengurangi risiko komplikasi serius.

Dokter Hary mengingatkan bahwa aktivitas pendakian tetap aman bagi kebanyakan orang.

Tetapi mereka yang termasuk dalam kelompok rentan harus berhati-hati dan mempertimbangkan kondisi kesehatannya sebelum melakukan pendakian ke tempat dengan atmosfer beroksigen rendah.

Persiapan fisik serta konsultasi medis sangat dianjurkan untuk menjaga keselamatan saat pendakian. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#jantung #oksigen #mendaki #gunung #hipertensi