Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kasus Gagal Ginjal pada Anak Muda Meningkat, Dokter Ungkap Gaya Hidup Buruk Jadi Pemicu Utama

M Robit Bilhaq • Sabtu, 6 Desember 2025 | 20:35 WIB
Ilustrasi penyakit gagal ginjal.
Ilustrasi penyakit gagal ginjal.

RADARTUBAN – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia medis mencatat lonjakan kasus gagal ginjal pada kelompok usia muda.

Fenomena ini memicu kekhawatiran serius mengingat penyakit ini membutuhkan biaya pengobatan besar, risiko komplikasi tinggi, hingga ketergantungan pada terapi cuci darah seumur hidup.

Menurut Spesialis Penyakit Dalam dari Heartology Hospital, dr. Debby Christiana Soemitha, Sp.PD, tren meningkatnya pasien gagal ginjal di usia belasan hingga 30-an tahun bukan lagi kasus langka.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan, lima sampai sepuluh tahun ke depan kita bisa sulit membayangkan masa depan generasi muda Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Inilah Akibat Yang Dapat Terjadi Pada Penderita Gagal Ginjal Yang Tidak Melakukan Prosedur Cuci Darah

Gagal Ginjal Bisa Menyerang Secara Kronis Maupun Mendadak

Gagal ginjal dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun (kronis), atau muncul tiba-tiba dalam hitungan hari akibat kerusakan akut.

Meski sering dikaitkan dengan usia lanjut, ternyata penyakit ini tidak memandang umur.

Banyak anak muda kini tiba-tiba datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi fungsi ginjal sudah sangat rendah.

Dr. Debby menegaskan, penyebab utamanya tidak tunggal. Gaya hidup modern menjadi faktor paling dominan yang memicu kerusakan ginjal sejak dini.

Pola Makan Tidak Sehat Jadi Penyebab Paling Besar

Dalam kehidupan sehari-hari, pola makan generasi muda kini didominasi fast food, minuman manis kemasan, es teh berwarna, minuman susu tinggi gula, hingga camilan asin.

Semua itu meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, dan diabetes—tiga faktor risiko terbesar kerusakan ginjal.

“Anak muda kini lebih akrab dengan minuman manis daripada air putih. Padahal ginjal bekerja ekstra keras menyaring gula dan zat aditif tersebut,” terang dr. Debby.

Minim Aktivitas Fisik dan Kebiasaan Mager Perparah Risiko

Selain pola makan, gaya hidup sedentary atau minim gerak menjadi pemicu lain melonjaknya gagal ginjal dini.

Banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan ponsel atau komputer tanpa aktivitas fisik memadai.

Kurangnya olahraga memicu obesitas dan memperburuk metabolisme tubuh, yang pada akhirnya membebani ginjal secara berlebihan.

Kurang Minum Air Putih, Dehidrasi Diam-diam Merusak Ginjal

Asupan air putih yang tidak memadai adalah masalah lain yang sering diabaikan.

Dehidrasi berkepanjangan membuat ginjal kekurangan cairan untuk melakukan proses penyaringan normal.

Jika dibiarkan, kondisi ini memicu pembentukan kristal yang berujung pada batu ginjal dan kerusakan jaringan.

Penggunaan Obat dan Suplemen Tanpa Pengawasan

Trend konsumsi obat pereda nyeri, suplemen kebugaran, hingga obat herbal tanpa anjuran dokter juga memperbesar risiko.

Banyak anak muda tidak menyadari bahwa bahan kimia tertentu dalam obat dapat bersifat nefrotoksik atau merusak ginjal bila digunakan terlalu sering.

Faktor Genetik Ikut Berperan

Meski tidak sebesar faktor gaya hidup, riwayat keluarga juga memengaruhi risiko seseorang mengalami gagal ginjal.

Mereka yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit ginjal lebih rentan mengalami kerusakan organ tersebut di usia muda.

Kasus gagal ginjal pada generasi muda kini menjadi alarm serius bagi sektor kesehatan.

Para dokter mendorong perubahan gaya hidup sejak dini, termasuk membatasi minuman manis, memperbanyak aktivitas fisik, memenuhi kebutuhan air putih, serta menggunakan obat dan suplemen dengan pengawasan medis. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#dehidrasi #pola makan #kurang olahraga #gagal ginjal #usia muda