RADARTUBAN - Dunia kesehatan Indonesia dikejutkan dengan penemuan revolusioner yang berpotensi mengubah arah pengobatan penyakit degeneratif global.
Sebuah tim peneliti dan dokter di Tanah Air, dipelopori oleh para profesor dari Universitas Brawijaya, sukses mengembangkan metode terapi yang diklaim mampu menyembuhkan kanker, stroke, hingga Parkinson dengan cepat.
Metode ini adalah Intelligent Gas Delivery System (IGDS), sebuah teknologi nanomedicine yang menggunakan gelembung gas ultra-kecil (Nanobubbles).
Keberhasilan dan dampak sosial penemuan ini diungkapkan oleh Kan Eddy, Ketua RAHO Club (Reverse Aging & Homeostasis Club) dan penyintas stroke, dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara pada Rabu (10/12).
Penemuan ini tidak hanya menjadi harapan baru bagi masyarakat yang menghadapi biaya pengobatan Barat yang mahal dan risiko kecacatan, tetapi juga telah diajukan untuk Paten Internasional (PCT), menjadikannya kandidat kuat peraih Hadiah Nobel.
Peneliti menemukan bahwa penyakit degeneratif dan proses penuaan berakar pada hipoksia, yakni kekurangan oksigen di tingkat sel akibat sumbatan pada pembuluh darah terkecil (mikrokapiler).
Kondisi ini menghambat suplai oksigen dan nutrisi, mengganggu metabolisme sel, memicu mutasi seperti pada kanker, serta menurunkan fungsi organ.
IGDS menjawab tantangan ini dengan cara yang cerdas. Nanobubbles dirancang untuk melewati sel darah merah dan langsung menghantarkan oksigen dan gas hidrogen (antioksidan terkuat) ke area yang hipoksia.
Selain itu, Nanobubbles yang bertekanan tinggi juga mampu mengikis plak keras di pembuluh darah melalui proses kavitasi.
Salah satu bukti keberhasilan terapi ini dialami Kan Eddy yang pulih total dari stroke, sekaligus menyaksikan pemulihan ibunya yang menderita Parkinson hingga kembali bisa berjalan dan berkaraoke.
“Saya sebut waktu itu keajaiban, saya pulih dari stroke dalam waktu dua minggu, completely normal, pada infus nano bubbles ketiga saya sudah bisa push up,” ungkapnya.
Penemuan yang berlokasi di Surabaya ini kini diwadahi oleh komunitas Raho Club, yang berpegang pada prinsip social driven business atau bisnis berbasis sosial dan gotong royong. Klub ini telah melayani lebih dari 21.000 member di seluruh Indonesia.
"Ini adalah gerakan dari Indonesia untuk Indonesia, gotong royong di bidang kesehatan," jelas Ketua Raho Club tersebut. "Kami menghimbau, ayo bergabung, dalam satu teknologi baru yang nantinya kita memimpin di dunia ini.".
Dengan model subsidi silang, pasien yang kurang mampu bisa mendapatkan akses terapi dari dana yang disumbangkan oleh anggota yang mampu.
Model ini bertujuan mengatasi hambatan klasik peneliti Indonesia seperti minimnya dana riset dan sulitnya akses ke fasilitas berstandar internasional.
Kesuksesan teknologi IGDS membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin inovasi global di bidang kesehatan.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=7YNcVeEQShk
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni