RADARTUBAN - Kesehatan rongga mulut anak kerap luput dari perhatian, padahal berperan penting dalam tumbuh kembang sejak usia dini.
Kesadaran orang tua menjadi kunci untuk mencegah risiko karies serta perubahan struktur rahang di masa depan.
Hal ini dibahas dalam podcast #BossMama yang tayang di kanal YouTube Sabrina Anggraini pada Rabu (10/12).
Dalam diskusi tersebut, drg. Robby P, Sp.KGA, dokter gigi spesialis anak dari Escalade Dental, memaparkan bahwa banyak orang tua di Indonesia yang masih keliru mengenai waktu yang tepat untuk membawa anak ke dokter.
Padahal, pemeriksaan dini sangat penting untuk memantau kualitas enamel gigi (lapisan pelindung gigi) serta mendeteksi gangguan pertumbuhan rahang sejak bayi.
Kurangnya edukasi medis membuat anak kerap dibawa ke klinik saat gigi sudah rusak parah atau terasa nyeri, sehingga berisiko menimbulkan trauma.
Kunjungan pertama ke dokter gigi sebaiknya dilakukan tanpa menunggu adanya keluhan atau lubang.
Dokter Robby menyarankan agar bayi sudah mulai diperiksakan segera setelah gigi pertama muncul, yang biasanya terjadi antara usia enam bulan hingga satu tahun.
Hal ini bertujuan untuk memantau struktur gigi serta memberikan panduan pola makan yang mendukung kesehatan mulut.
Apabila hingga usia 1,5 tahun gigi pertama belum tumbuh, orang tua patut waspada dan segera melakukan konsultasi medis guna memeriksa keberadaan benih gigi di dalam rahang.
Salah satu tantangan terbesar bagi orang tua adalah menghadapi anak yang menolak untuk disikat giginya.
Meskipun anak menangis atau berontak, kedisiplinan dalam menjaga kebersihan mulut harian tetap tidak boleh ditinggalkan demi mencegah tindakan medis yang lebih rumit di masa depan.
"Lebih baik mana, secara rutin setiap hari megangin anak sikat gigi tapi hanya untuk 1-2 menit, atau gigi anaknya terlanjur lubang dan harus dipegangin di dokter gigi selama 20 sampai 30 menit," ujar dokter Robby.
Selain masalah sikat gigi, penggunaan produk yang mengandung fluoride juga sering menjadi perdebatan karena kekhawatiran tertelan.
Padahal, zat ini sangat dibutuhkan untuk memperkuat lapisan gigi agar tahan terhadap asam.
Kuncinya terletak pada takaran yang sangat sedikit agar tetap aman bagi tubuh anak.
"Misalnya anak masih di bawah 2 tahun, pasta giginya itu hanya sebesar sebutir beras, sedikit sekali," jelasnya.
Kebiasaan sehari-hari seperti penggunaan botol susu saat tidur dan bernapas melalui mulut juga perlu diawasi secara ketat karena dapat mengubah struktur rahang menjadi tonggos.
Mengingat koordinasi motorik anak yang belum sempurna, pendampingan orang tua dalam menyikat gigi tetap menjadi keharusan hingga anak menginjak usia sekolah dasar.
"Sampai usia 8 tahun, anak sebaiknya masih dibantu untuk sikat gigi," tegas dokter Robby. Melalui pemeriksaan rutin setiap enam bulan, kesehatan gigi anak diharapkan dapat terjaga secara optimal hingga mereka dewasa. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama