Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gen Z Krisis Kesehatan Mental, Ancaman Anxiety, Depresi hingga NPD, Pola Parenting Orang Tua Jadi Sorotan

Imanda Najwa Kirana Dewi • Jumat, 19 Desember 2025 | 17:04 WIB
anak muda yang mengalami depresi, mencerminkan krisis kesehatan mental di kalangan Generasi Z.
anak muda yang mengalami depresi, mencerminkan krisis kesehatan mental di kalangan Generasi Z.

RADARTUBAN – Isu kesehatan mental di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), kian menjadi perhatian serius di tengah perubahan sosial yang cepat dan tekanan hidup modern.

Berbagai istilah psikologis seperti anxiety, depresi, hingga Narcissistic Personality Disorder (NPD) kini semakin akrab di telinga anak muda.

Namun, meningkatnya kesadaran ini masih sering berbenturan dengan pemahaman generasi yang lebih tua, baik di lingkungan keluarga maupun dunia kerja.

Fenomena tersebut dibahas secara mendalam dalam diskusi di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, yang menghadirkan Helmy Yahya sebagai host dan Dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, yang akrab dipanggil Dokter Vivi Syarif, seorang psikiater, sebagai narasumber.

Diskusi ini mengupas akar persoalan kesehatan mental Gen Z, mulai dari stigma, pola asuh keluarga, hingga trauma lintas generasi.

Menurut Dr. Vivi Syarif, Gen Z saat ini memiliki tingkat kesadaran (awareness) terhadap kesehatan mental yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Mereka tidak lagi ragu untuk mengenali emosi, mencari informasi, bahkan mendatangi psikolog atau psikiater ketika mengalami masalah kejiwaan. Namun, kesadaran ini sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang sama dari orang tua.

“Masih banyak stigma dari generasi sebelumnya. Mereka berpikir, ‘Kenapa harus ke psikiater? Sudah, ibadah saja, salat saja, kurang bersyukur,’” ujar Dr. Vivi.

Ia menegaskan bahwa menyederhanakan persoalan kesehatan mental hanya ke ranah spiritual tanpa validasi emosional justru dapat memperburuk kondisi seseorang.

Helmy Yahya menyoroti bahwa pendekatan semacam ini kerap menimbulkan jarak antara anak dan orang tua. Bahkan, menurut Dr. Vivi, kondisi tersebut bisa memicu sikap antipati terhadap agama.

“Bukan karena mereka membenci agamanya, tapi karena pengalaman buruk dengan figur orang tua yang membawa semua masalah ke agama tanpa empati,” jelasnya.

Lebih jauh, Dr. Vivi menekankan bahwa pola asuh orang tua merupakan salah satu stressor terbesar bagi kesehatan mental anak. Ia memperkenalkan konsep generational trauma, yakni trauma yang diwariskan secara emosional dari generasi ke generasi.

Trauma tersebut bisa berasal dari kakek-nenek yang dibesarkan dalam lingkungan keras, penuh kekerasan verbal maupun fisik, lalu tanpa disadari diteruskan kepada anak dan cucu.

Ironisnya, luka batin anak semakin dalam ketika melihat ketidaksesuaian antara ajaran dan perilaku orang tua.

“Ada orang tua yang rajin beribadah, tampak religius, tapi di rumah abusif, selingkuh, atau melakukan kekerasan. Anak akhirnya bukan membenci agama, tapi membenci figur orang tuanya,” tegas Dr. Vivi.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Vivi juga memaparkan tiga gangguan mental yang paling sering dialami Gen Z.

Pertama, Narcissistic Personality Disorder (NPD), gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa superior berlebihan, minim empati, manipulatif, anti-kritik, serta sering melakukan gaslighting terhadap orang di sekitarnya.

Kedua, anxiety, gangguan kecemasan yang paling umum, dipicu oleh tekanan sosial, overthinking, dan paparan media sosial yang sarat budaya pamer atau flexing.

Ketiga, depresi, kondisi yang lebih serius dengan gejala penurunan mood drastis, hilangnya energi dan motivasi hidup, hingga gangguan fungsi harian. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#trauma #Gen Z #anxiety #kesehatan mental #tekanan hidup #NPD #generasi muda