RADARTUBAN – Ngorok alias mendengkur identik dengan bapak-bapak sering menjadi bahan obrolan ringan di keluarga hingga komunitas.
Faktanya, suara dengkuran yang terdengar keras di malam hari bukan hanya soal lelah setelah seharian bekerja, tetapi juga ada alasan ilmiah dan medis di baliknya.
Artikel ini membahas alasan utama mengapa pria, terutama bapak-bapak, lebih rentan mengalami dengkuran dibanding kelompok lainnya.
1. Klise & Fakta: Mendengkur Itu Bukan Sekadar Cerita Bapak-bapak
Banyak yang menganggap bahwa dengkuran adalah “hak istimewa” bapak-bapak.
Kenyataannya, suara dengkuran berasal dari getaran jaringan lunak di saluran napas atas karena udara yang lewat tidak lancar saat tidur. Proses ini lebih sering terjadi pada pria daripada perempuan.
Menurut riset, sekitar 45% orang dewasa pernah mengalami dengkuran dan 25% mendengkur secara rutin.
Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering mengalami dengkuran dibanding perempuan, dengan prevalensi yang meningkat seiring bertambahnya usia.
2. Perubahan Fisik & Struktur Tubuh Pria
Salah satu alasan mengapa mendengkur identik dengan bapak-bapak adalah kondisi fisiologis pria.
Struktur saluran napas atas pria yang sedikit berbeda serta kecenderungan penumpukan jaringan di area leher membuat jalur napas lebih mudah tersumbat atau menyempit saat tidur.
Seiring bertambahnya usia, otot-otot di sekitar tenggorokan juga cenderung melemah.
Ketika ini terjadi, dinding saluran napas lebih rentan bergetar sehingga timbullah suara dengkuran.
3. Faktor Hormonal & Usia
Testosteron, hormon utama pada pria, diduga berperan dalam membuat otot tenggorokan lebih rileks dibandingkan kelompok lain pada saat tidur, dan hal ini bisa menjadi pemicu terjadinya dengkuran.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa prevalensi dengkuran meningkat sampai kelompok usia tertentu pada pria (misalnya 30–60 tahun), dan faktor usia serta perubahan tubuh ikut berperan di dalamnya.
4. Kebiasaan Hidup yang Sering Terjadi pada Bapak-bapak
Selain faktor biologis, kebiasaan hidup seperti:
• Merokok
• Konsumsi alkohol
• Pola tidur tidak teratur
• Posisi tidur telentang
semua ini dikenal memperparah frekuensi dan volume dengkuran saat tidur, terutama pada pria dewasa.
5. Peran Obesitas dan Berat Badan
Kelebihan berat badan, khususnya di area leher atau perut, turut mempersempit saluran napas saat tidur.
Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria paruh baya, yang membuat stigma mendengkur identik dengan bapak-bapak menjadi lebih kuat.
6. Bukan Sekadar Suara, Tetapi Bisa Jadi Tanda Kesehatan
Walaupun sering dianggap lucu, dengkuran yang berat bisa menjadi tanda gangguan tidur serius seperti Obstructive Sleep Apnea (OSA), kondisi di mana saluran napas menyempit sehingga napas terhenti sesaat saat tidur.
Jika Anda atau keluarga sering mengalami dengkuran sangat keras di malam hari, pertimbangkan untuk konsultasi dengan tenaga kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Fenomena mendengkur identik dengan bapak-bapak bukan semata stereotip, tetapi berdasar pada:
Faktor anatomi tubuh pria
Perubahan hormonal dan otot akibat usia
Kebiasaan hidup yang umum terjadi pada pria paruh baya
Risiko yang terkait dengan obesitas dan struktur tubuh
Meski begitu, semua orang tanpa memandang gender tetap bisa mengalami dengkuran.
Yang terpenting adalah memahami faktor penyebabnya dan mengambil langkah penanganan bila perlu, baik melalui perubahan gaya hidup maupun konsultasi medis. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni