Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Benarkah Makanan Bakaran Berbahaya bagi Kesehatan? Ini Penjelasan Lengkap Ahli Gizi

M Robit Bilhaq • Rabu, 7 Januari 2026 | 07:10 WIB

 

Ilustrasi pedagang sate.
Ilustrasi pedagang sate.

RADARTUBAN - Hidangan yang diolah dengan cara dibakar, seperti jagung bakar, ayam panggang, hingga sosis, memang memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak orang berkat aroma dan rasanya yang unik.

Namun, popularitas makanan ini sering kali dibarengi dengan kegelisahan masyarakat terkait efek samping dari makanan bakaran terhadap kesehatan tubuh.

Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, pakar dari Departemen Gizi Masyarakat IPB University, memberikan penjelasan bahwa metode pembakaran memang dapat mengubah profil nutrisi makanan, namun hasilnya tidak selamanya buruk.

Melansir informasi dari situs resmi IPB University pada Senin (5/1), Dr. Karina menjelaskan secara saintifik bahwa proses pembakaran ternyata dapat mengikis kadar nutrisi tertentu.

Teknik ini juga dapat mereduksi jumlah vitamin yang sifatnya larut dalam air, seperti kelompok vitamin B dan vitamin C yang terkandung dalam bahan pangan.

Aspek yang benar-benar harus diperhatikan adalah penggunaan suhu yang terlampau tinggi, terutama saat mengolah sumber protein hewani seperti daging sapi atau ayam.

Dr. Karina memperingatkan bahwa panas yang ekstrem dapat merangsang munculnya zat karsinogenik, yakni polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) serta heterocyclic amines (HCAs).

Jika masuk kedalam tubuh dalam jumlah yang berlebihan dan terus menerus, kedua senyawa tersebut memiliki potensi untuk memicu penyakit berbahaya.

Meski demikian, Dr. Karina menegaskan bahwa predikat berbahaya tidak bisa disematkan kepada semua makanan yang dibakar secara otomatis.

Ancaman kesehatan tersebut biasanya baru muncul apabila protein hewani diproses dengan api yang sangat panas hingga merubah tekstur menjadi gosong atau menghitam.

Faktor penentu risiko kesehatan sebenarnya terletak pada jenis bahan makanan yang dipilih serta bagaimana kondisi proses pembakarannya dilakukan.

Yang menarik adalah beberapa kelompok makanan justru mengalami peningkatan kualitas gizi setelah dibakar, khususnya pada jenis sayur-sayuran.

Teknik pembakaran pada sayuran tertentu dapat merusak dinding sel tumbuhan, sehingga zat bermanfaat seperti beta-karoten, antioksidan, dan lycopene menjadi lebih optimal untuk diserap oleh sistem pencernaan manusia.

Beliau merinci contoh spesifik seperti terong bakar yang menunjukkan kenaikan kadar mineral penting seperti fosfor, magnesium, kalium, dan mangan.

Guna mereduksi risiko kesehatan dan mempertahankan mutu nutrisi, Dr. Karina membagikan sejumlah tip praktis yang krusial.

Langkah pertama adalah melakukan proses marinasi pada daging atau sumber protein hewani lainnya dengan bumbu dan rempah-rempah sebelum dimasak.

Selain itu, membakar makanan hingga tekstur nya berubah menghitam sangat disarankan untuk dihindari, dan sebisa mungkin tidak menaruh bahan makanan tepat bersentuhan langsung dengan nyala api.

Dengan menerapkan teknik tersebut,pembentukan zat kimia berbahaya dapat ditekan tanpa harus mengorbankan cita rasa makanan yang lezat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#nutrisi makanan #makanan bakaran #kesehatan #Ahli Gizi