Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Skrining Dini Kanker Serviks Masih Rendah, Ini Dampaknya bagi Perempuan Indonesia

Ika Nur Jannah • Kamis, 8 Januari 2026 | 20:35 WIB
Ilustrasi Dokter dan pasien
Ilustrasi Dokter dan pasien

RADARTUBAN - Kanker serviks tetap menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia, dengan angka kematian yang masih tinggi akibat kurangnya kesadaran akan skrining dini.

Urgensi deteksi dini melalui pemeriksaan rutin seperti Pap smear atau IVA untuk menangkap perubahan sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker stadium lanjut.

Kanker serviks, yang utamanya dipicu oleh virus HPV, sering disebut “silent killer” karena gejalanya minimal pada tahap awal.

Menurut laporan Kompas, kasus peningkatan drastis di Indonesia akibat rendahnya angka skrining, hanya mencapai di bawah 10 persen pada wanita usia subur.

Deteksi dini bisa meningkatkan peluang sembuh hingga 90 persen jika ditemukan sejak stadion satu.

Alasan Skrining Rendah

Empat faktor utama yang menghambat partisipasi: rasa malu terhadap fasilitas kesehatan, biaya pemeriksaan, kurangnya informasi, dan akses terbatas di daerah pedesaan.

Padahal, skrining sederhana seperti IVA tersedia gratis di puskesmas dan efektif mendeteksi prekanker. Kemenkes mendorong kampanye besar-besaran untuk mengubah perilaku ini.

Langkah Pencegahannya

• Vaksinasi HPV sejak usia muda mencegah infeksi penyebab utama.

• Skrining rutin mulai usia 30 tahun, idealnya setiap 3-5 tahun.

• Gaya hidup sehat: hindari rokok, jaga imunitas, dan poligami berisiko.

Pemerintah menargetkan eliminasi kanker serviks pada tahun 2030 melalui program skrining nasional. Segera periksakan diri Anda, karena satu tes bisa menyelamatkan nyawa. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kanker serviks #skrining dini #IVA #pap smear #perempuan #hpv #deteksi dini